KETIKA hujan turun di dataran tinggi Krayan Raya (julukan untuk wilayah Krayan oleh warga lokal), Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, perjalanan yang biasanya ditempuh dalam hitungan jam bisa berubah menjadi perjuangan berhari-hari. Mobil pengangkut bahan bakar minyak (BBM) harus merangkak melewati jalan berlumpur, menembus hutan, dan melintasi jembatan kayu lapuk demi membawa energi untuk masyarakat perbatasan Indonesia.
Penulis: Sunny Celine
Di kawasan yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, keterisolasian bukan sekadar persoalan jarak. Sebagian besar kendaraan yang digunakan masyarakat berpelat Malaysia. Sinyal telepon seluler pun terkadang lebih mudah terhubung dengan operator Negeri Jiran. Sementara akses transportasi darat yang terbatas membuat mobilitas warga sangat bergantung pada kondisi cuaca dan medan perjalanan.
Di tengah realitas tersebut, energi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Bahan bakar dibutuhkan untuk menggerakkan kendaraan, mengolah hasil pertanian, menjalankan usaha kecil, hingga mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat.
Sebelum pasokan BBM dari dalam negeri menjangkau masyarakat secara lebih luas, warga Krayan menghadapi harga bahan bakar dari Malaysia yang dapat mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter.
Kini, melalui program BBM Satu Harga, masyarakat dapat memperoleh Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter dan Solar atau Biosolar bersubsidi Rp6.800 per liter.
Selisih harga Pertalite mencapai Rp10.000 hingga Rp15.000 per liter dibandingkan BBM dari Malaysia yang sebelumnya dibeli warga dengan harga Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter.
Namun, bagi masyarakat Krayan, manfaat BBM Satu Harga tidak berhenti pada selisih harga. Di wilayah yang akses transportasinya terbatas, ketersediaan bahan bakar menentukan apakah kendaraan bisa beroperasi, mesin pertanian dapat digunakan, dan roda ekonomi tetap berputar.
Dari Rp25 Ribu ke Rp10 Ribu, Usaha Menjangkau Perbatasan
Kehadiran program BBM Satu Harga melalui empat stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Krayan Raya, yakni Krayan Induk, Krayan Barat, Krayan Timur, dan Krayan Selatan, memberikan alternatif pasokan energi dari dalam negeri bagi masyarakat.
Pertalite dan Biosolar bersubsidi tidak hanya mengisi tangki kendaraan. Keduanya juga digunakan untuk mendukung aktivitas produktif warga, mulai dari menggerakkan mesin pemotong rumput, mesin penggiling padi skala kecil, gergaji mesin atau chainsaw untuk mengolah kayu, hingga perahu ketinting.
Di kawasan dengan keterbatasan akses transportasi inilah yang membuat bahan bakar memiliki hubungan erat dengan aktivitas ekonomi. Ketika pasokan langka atau harganya tinggi, biaya mobilitas dan kegiatan produktif masyarakat pun ikut terdampak.
Jemri, salah seorang warga Krayan, menggambarkan bagaimana kedekatan geografis dengan Malaysia memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Kendaraan, jaringan telekomunikasi, hingga akses jalan membuat pengaruh negeri jiran begitu dekat dengan keseharian warga.
“Wilayah Krayan itu di jantung perbatasan. Ya, kendaraan kami banyak dari Malaysia, jalan kami banyak yang tembus ke Sarawak, sinyal HP pun kadang sinyal Malaysia. Tapi untuk urusan energi, hati kami tetap Merah Putih,” tegas Jemri.
Menurutnya, masyarakat rela mengantre untuk mendapatkan BBM Indonesia. Keberadaan pasokan dalam negeri menjadi pilihan penting di tengah kondisi perbatasan yang selama ini memiliki ketergantungan terhadap produk dari negara tetangga.
“Bahkan warga rela antre di SPBU demi BBM Indonesia, karena ini soal kedaulatan. BBM Satu Harga adalah bukti negara hadir. Selama BBM Pertamina ada, warga merasa bagian dari Indonesia, bukan halaman belakang,” ujarnya.
Pernyataan Jemri memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat perbatasan. Kendati berdampingan dengan negara lain, akses energi dari dalam negeri menjadi salah satu bukti ‘NKRI Harga Mati’ bukan hanya omongan belaka.
Kendati demikian, peralihan konsumsi BBM tidak serta-merta menghilangkan seluruh ketergantungan terhadap pasokan Malaysia. Kondisi kendaraan dan karakteristik bahan bakar masih menjadi pertimbangan sebagian konsumen. Ketersediaan pasokan yang berkelanjutan juga tetap menjadi faktor penting agar masyarakat dapat mengandalkan BBM dalam negeri.
Sales Branch Manager Kaltimut V Fuel, Nabila Inanbarika Hartyana, mengatakan peningkatan permintaan BBM Pertamina terjadi di sejumlah wilayah perbatasan, termasuk Krayan.
“Secara stok dari Fuel Terminal Tarakan kami pastikan sangat aman. Di wilayah perbatasan seperti Sebatik dan Krayan, terjadi kenaikan permintaan hingga dua kali lipat akibat kondisi geopolitik dunia yang membatasi pasokan BBM dari negara tetangga. Masyarakat kini jauh lebih condong ke BBM Pertamina,” jelasnya.
Peningkatan permintaan tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan distribusi dalam menjaga pasokan energi di kawasan perbatasan. Ketika pasokan dari negara tetangga terbatas, kebutuhan masyarakat terhadap BBM dalam negeri ikut meningkat.
Guna menjaga penyaluran, Pertamina berkoordinasi dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum. Pengawasan dilakukan agar BBM bersubsidi disalurkan sesuai ketentuan, termasuk kepada nelayan, pelaku usaha pertanian, dan konsumen nonkendaraan yang memenuhi persyaratan melalui surat rekomendasi.
Namun, memastikan BBM tersedia di Krayan bukan perkara sederhana. Stok yang aman di terminal belum otomatis menjamin bahan bakar dapat segera digunakan masyarakat. Di antara terminal dan tangki kendaraan warga, terdapat perjalanan panjang yang harus dilalui.
“Krayan Selatan sendiri, ini yang paling sulit aksesnya. Membutuhkan waktu kalau tidak hujan 12 jam itu bisa sampai. Namun apabila hujan, itu bisa sedikit menghambat karena jalannya berlumpur sehingga bisa tiga hari dari Krayan Indik menuju Krayan Selatan,” jelasnya.

Dua Ton BBM, Perjalanan hingga Tiga Hari Tiga Malam
Perjalanan BBM menuju Krayan berlangsung melalui rantai distribusi yang panjang. Pasokan dari Fuel Terminal Tarakan diterbangkan menuju Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan. Setelah tiba, distribusi dilanjutkan oleh penyalur lokal melalui jalur darat menuju SPBU di wilayah Krayan.
Di titik inilah tantangan geografis benar-benar terasa. Rustam, penyalur SPBU Krayan Selatan, menyebut perjalanan dari Long Bawan menuju wilayahnya sebagai salah satu jalur distribusi yang paling berat. Kondisi jalan di Krayan Timur mulai membaik, tetapi perjalanan menuju Krayan Selatan masih sangat bergantung pada cuaca.
Dalam kondisi cerah, perjalanan darat dapat ditempuh sekitar 12 jam. Namun, ketika hujan turun, perjalanan bisa berlangsung dua hingga tiga hari, bahkan tiga malam.
“Pendistribusian dari bandara menuju SPBU Krayan Selatan itu murni jalur darat menggunakan mobil double gardan muatan 1 ton. Isinya satu mobil dua orang sopir dan co-driver. Sekali jalan biasanya kita rombongan 2 sampai 4 mobil,” bebernya.
Mobil pengangkut harus melewati jalan tanah yang berlubang dan berlumpur tebal. Sejumlah jembatan kayu yang telah lapuk, atau disebut warga setempat sebagai jabuk, menambah risiko perjalanan.
Kondisi tersebut membuat distribusi BBM bukan hanya persoalan mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain. Para pengemudi juga harus menghadapi kemungkinan kendaraan terjebak, perjalanan terhenti, hingga terpaksa bermalam di tengah hutan.
“Tantangan paling berat itu jalan lumpur dan jembatan yang kayunya sudah jabuk-jabuk semua. Kalau mobil sudah sangkut atau terjebak di lubang saat malam tiba, ya di situlah kami menginap di tengah hutan. Kami saling bantu narik mobil sampai bisa keluar. Tapi demi masyarakat terlayani, kami ambil tanggung jawab ini,” tambahnya.
Ketika satu kendaraan terjebak, perjalanan rombongan bisa ikut tertunda. Para pengemudi harus saling membantu menarik mobil agar dapat keluar dari lubang dan kembali melanjutkan perjalanan. Jika malam tiba sebelum kendaraan berhasil melewati medan sulit, hutan menjadi tempat mereka bertahan hingga perjalanan memungkinkan untuk diteruskan.
Situasi tersebut memperlihatkan, ketersediaan BBM di wilayah perbatasan tidak hanya bergantung pada stok di terminal atau harga yang ditetapkan. Kondisi infrastruktur, cuaca, kendaraan pengangkut, serta ketahanan para penyalur turut menentukan apakah bahan bakar bisa sampai ditangan masyarakat.
Perjuangan tersebut juga harus menjawab kebutuhan yang tinggi. Rustam mengatakan pasokan BBM sebanyak dua ton yang tiba di SPBU Krayan Selatan kerap habis terjual hanya dalam satu hari.
Cepatnya penyerapan pasokan itu menggambarkan besarnya kebutuhan energi masyarakat. Sekaligus, menjadi pengingat kelancaran distribusi harus dijaga agar pelayanan tidak terputus setelah satu pengiriman selesai.
Di Krayan, BBM menjadi penghubung antara akses energi dan keberlangsungan kegiatan sehari-hari. Harga yang lebih terjangkau memberi pilihan bagi masyarakat, sedangkan pasokan yang konsisten menentukan apakah manfaat tersebut benar-benar dapat dirasakan.
Negara Hadir di Ujung Jalan
Di wilayah 3T ini (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), kehadiran negara kerap diukur melalui hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Bukan hanya melalui kebijakan, melainkan juga melalui layanan dasar yang dapat diakses ketika dibutuhkan.
BBM Satu Harga menjadi salah satu upaya memperluas akses energi hingga ke wilayah yang secara geografis sulit dijangkau. Namun, pengalaman Krayan memperlihatkan kebijakan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar penetapan harga. Distribusi harus mampu menjangkau masyarakat dengan kondisi medan yang ektrem.
Di balik setiap tetes BBM yang tiba di SPBU Krayan, ada perjalanan dari Tarakan, penerbangan menuju Long Bawan, hingga mobil pengangkut yang berjibaku dengan lumpur dan jembatan lapuk. Ada pula penyalur yang harus menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari, agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Ketika dua ton BBM habis terserap dalam sehari, pekerjaan belum selesai. Pasokan berikutnya harus kembali disiapkan dan diantarkan, melewati jalur yang sama sulitnya.
Di atas lumpur dan awan Krayan, menjaga nyala Merah Putih bukan semata tentang simbol kedaulatan di garis perbatasan. Ia juga tentang memastikan masyarakat memiliki akses terhadap energi yang terjangkau dan tersedia secara berkelanjutan.
Sebab, bagi warga yang hidup bertetangga dengan negara lain, kehadiran negara sendiri terasa nyata ketika bahan bakar tetap tersedia untuk menggerakkan kendaraan, menghidupkan mesin, dan menjaga kehidupan Krayan Raya terus berjalan. (*)








