Menjaga Asa Kemerdekaan lewat Merah Putih yang Terus Memanjang

“Kita harus bawa satu benda yang bisa menggerakkan teman-teman. Akhirnya muncul ide kami bahwa yang tepatnya adalah merah putih.”

Oleh: Eko Saputra

AGUSTUS belum benar-benar usai. Meski upacara kemerdekaan telah lewat dan riuh perayaan 17 Agustus perlahan mereda, ada semangat yang masih terus berjalan, dibawa dari tangan ke tangan dalam selembar merah putih yang panjangnya tak lagi biasa.

Hari ini, Sabtu (29/8/2026), merah putih sepanjang 2.026 meter itu kembali dikirab di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Kirab dimulai pukul 08.00 WITA dengan titik start di depan Kantor Gubernur Kalimantan Utara dan berakhir di kawasan Cinta Damai.

Bendera yang panjangnya menyesuaikan tahun 2026 itu tidak hanya menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan. Ia membawa cerita tentang bagaimana sebuah gagasan sederhana sejak 2014 perlahan tumbuh menjadi tradisi, sekaligus cara sekelompok orang menjaga agar semangat kemerdekaan tidak berhenti ketika tanggal 17 Agustus telah berlalu.

Ketua Badan Pengurus Kota Organisasi Orang Indonesia (OI) Tarakan, Che Ageng, mengatakan gagasan menghadirkan bendera berukuran besar itu lahir dari keresahan sederhana pada 2014.

Kala itu, mereka melihat banyak teman yang sudah tidak lagi bersekolah sehingga semakin jarang mengikuti upacara atau kegiatan peringatan kemerdekaan. Mereka ingin menemukan cara agar orang-orang tetap dapat merasakan suasana 17 Agustus dengan cara yang lebih dekat dan tidak terlalu formal.

“Janganlah kita melewati momen detik-detik proklamasi ini, mungkin dengan bangun siang atau segala macam,” ungkapnya.

Dari keresahan itu, muncul gagasan untuk membawa sesuatu yang dapat menyatukan mereka. Bukan simbol kelompok, bukan atribut organisasi, melainkan sesuatu yang dimiliki seluruh rakyat Indonesia.

“Kita harus bawa satu benda yang bisa menggerakkan mereka. Akhirnya muncul ide kami bahwa yang tepatnya adalah merah putih,” ujarnya.

Dari Sembilan Meter Menjadi Ribuan Meter

Pada 2014, tidak ada ambisi untuk membuat bendera sepanjang ribuan meter. Kain itu hanya berukuran sembilan meter dengan lebar 2,20 meter. Namun, setiap tahun, panjangnya terus ditambahkan. Sedikit demi sedikit, kain itu tumbuh seiring perjalanan waktu.

“Komitmen kami, setiap dia keluar dari lipatannya, atau setiap berkegiatan, wajib ditambah,” tuturnya.

Ada aturan sederhana yang mereka pegang. Setiap kali bendera kembali digunakan, panjangnya harus bertambah setidaknya satu rol kain atau sekitar 27 meter.

Baca Juga :  Dari Seutas Benang sampai ke Manca Negara, Tenun D’utan Bawa Identitas Kalimantan Utara

“Minimal ditambah 27 meter. Karena satu rol ukurannya 27 meter,” katanya.

Dari sembilan meter, panjangnya kemudian mencapai 200 meter pada 2018. Ketika itu, bendera mulai terlalu panjang untuk sekadar dibentangkan di satu tempat. Kain yang awalnya dibentangkan akhirnya menemukan cara lain untuk bergerak. Ia dibawa dalam kirab, berjalan dari satu tempat ke tempat lain bersama orang-orang yang memegangnya.

“Panjang 200 meter itu sudah tidak mungkin dan tidak ada tempat untuk kita membentangkan. Makanya kami ubah proses yang tadinya metode pembentangan, kami ubah menjadi kirab,” jelasnya.

Kirab pertama dengan bendera sepanjang 200 meter bahkan mampu mengumpulkan hampir seribu orang. Sejak saat itu, bendera tersebut bukan lagi hanya menjadi selembar kain panjang, tetapi menjadi ruang pertemuan bagi banyak orang.

Dibangun dari Iuran dan Rasa Memiliki

Ada nilai lain yang membuat bendera tersebut berbeda. Ia tidak lahir dari satu sumber pembiayaan besar. Pada tahun-tahun awal, bendera itu dibangun dari iuran para anggota. Mereka menyisihkan sebagian penghasilan, mengumpulkannya, lalu membeli kain dan menambah panjangnya.

“Mulai dari 2014 sampai 2018 itu iuran dari teman-teman. Kita gajian, kita kumpul uang, kita beli segala macam,” terangnya.

Dukungan dari para senior juga turut mengiringi perjalanan bendera tersebut. Seiring kegiatan berkembang, bantuan dari pemerintah pun pernah diberikan untuk mendukung penambahan panjangnya. Jika seluruh biaya dihitung menggunakan harga kain saat ini, nilai yang telah dikeluarkan sejak 2014 diperkirakan mencapai sekitar Rp187 juta.

“Kalau kita total, dengan harga sekarang, itu sekitar Rp187 juta,” katanya.

Namun bagi mereka, nilai bendera tersebut tidak berhenti pada angka rupiah. Ada rasa memiliki yang tumbuh karena kain itu dibangun secara perlahan dari hasil patungan. Che Ageng bahkan mengatakan ada pihak yang pernah menawarkan untuk membiayai agar bendera tersebut dibuat lebih besar. Namun mereka memilih mempertahankan semangat awalnya.

“Biarlah bendera ini panjang sepanjang-panjangnya, tentunya dengan semangat teman-teman,” imbuhnya.

*Merawat Merah Putih yang Panjangnya Lebih dari Dua Kilometer*

Menjaga bendera sepanjang 2.026 meter tentu bukan perkara sederhana. Kain tersebut harus dilipat dan disimpan dengan hati-hati. Kapur barus digunakan untuk membantu menjaga kain dari kerusakan, sementara ikatan penyimpanan tidak boleh terlalu rapat agar tetap ada sirkulasi udara.

Baca Juga :  Dari Seutas Benang sampai ke Manca Negara, Tenun D’utan Bawa Identitas Kalimantan Utara

“Posisi diikatnya itu jangan terlalu kencang, supaya minimal hawa-hawa masuk juga,” jelasnya.

Ketika bendera dikeluarkan dan dibentangkan, setiap bagian juga diperiksa. Bila terdapat kotoran, bagian tersebut langsung dibersihkan sebelum bendera kembali dilipat.

“Ketika bendera terbentang itu, teman-teman melihat kalau misalkan ada yang kotor, kita langsung sikat,” katanya.

Sebab bagi mereka, membersihkan bendera ketika masih terbentang jauh lebih mudah dibandingkan ketika kain telah kembali dilipat. Bendera itu bahkan harus diperlakukan seperti benda yang membawa kehormatan. Tangan para pemegangnya diimbau tetap bersih. Tidak makan, tidak merokok, dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi meninggalkan noda pada kain.

“Sebab semakin panjang benderanya, semakin panjang pula tanggung jawab untuk menjaganya,” lanjutnya.

Menyeberangi Laut, Bawa Merah Putih

Perjalanan merah putih itu tidak hanya terjadi di jalanan. Untuk berpindah dari satu daerah ke daerah lain, kain sepanjang ribuan meter tersebut harus menyeberangi laut. Ia dikemas menggunakan terpal dan diikat rapat agar terlindungi dari air maupun embun.

“Dibungkus terpal, dibungkus benar-benar, kita ikat seperti packing barang,” bebernya.

Bendera itu telah hadir dalam sejumlah perjalanan di Kalimantan Utara. Tanjung Selor, Tarakan, hingga Nunukan menjadi bagian dari jejaknya. Pada 2023, misalnya, bendera sepanjang 1.000 meter dibawa dalam kegiatan di Nunukan. Tahun ini, perjalanan kembali membawanya ke Tanjung Selor dengan panjang yang telah mencapai 2.026 meter angka yang sengaja disesuaikan dengan tahun 2026.

“Jadi panjangnya 2.026 meter, sama dengan tahun hari ini,” sebutnya.

Jika dibentangkan, panjangnya mencapai lebih dari dua kilometer. Karena itu, pengaturannya membutuhkan barisan panjang yang melibatkan berbagai unsur. Di bagian depan terdapat Paskibraka, kemudian unsur TNI-Polri, pelajar tingkat SMA, hingga organisasi dan komunitas. Jarak antarpemegang diatur sekitar dua meter.

“Posisi mengaturnya itu dua kilo lebih,” tuturnya.

Merah Putih yang Ingin Menelusuri Negeri

Perjalanan bendera tersebut rupanya belum selesai. Ada rencana untuk membawanya ke daerah-daerah lain di Kalimantan Utara yang belum pernah menjadi lokasi kirab. Bahkan, sebuah gagasan yang lebih jauh mulai muncul: membawa merah putih tersebut hingga ke Ibu Kota Nusantara atau IKN. Ajakan itu datang dari jejaring komunitas di Kalimantan yang ingin menghadirkan pembentangan atau kirab merah putih di kawasan IKN.

Baca Juga :  Dari Seutas Benang sampai ke Manca Negara, Tenun D’utan Bawa Identitas Kalimantan Utara

“Teman-teman dari Kalimantan mau mengajak kita untuk pembentangan atau kirap di IKN,” bebernya.

Namun rencana itu belum memiliki kepastian waktu. Persiapan, koordinasi, biaya dan waktu kerja menjadi hal yang harus diperhitungkan.

“Yang jelas menunggu momen. Selain menunggu momen, melihat jadwal kerja teman-teman,” tegasnya.

Jika suatu hari nanti merah putih itu benar-benar sampai di IKN, ia tidak akan datang sebagai kain yang baru dibuat. Ia datang membawa perjalanan panjang sejak 2014.

Membawa sembilan meter pertama yang dijahit dengan sederhana. Membawa tambahan-tambahan panjang yang dikumpulkan dari tahun ke tahun. Membawa hasil iuran orang-orang yang menyisihkan penghasilannya. Membawa jejak perjalanan dari Tarakan, Tanjung Selor hingga Nunukan.

Dan tentu saja, membawa 2.026 meter cerita tentang bagaimana sebuah simbol negara dapat menjadi alasan bagi orang-orang untuk berkumpul.

Kemerdekaan Bukan Hanya di Tanggal 17 Agustus

Mungkin itulah makna terdalam dari merah putih tersebut. Kemerdekaan memang memiliki satu tanggal untuk diperingati. Tetapi semangatnya tidak pernah memiliki tanggal kedaluwarsa.

Ketika Agustus hampir berakhir dan suasana perayaan perlahan kembali senyap, kain merah putih itu justru mengingatkan bahwa mencintai Indonesia tidak harus selalu melalui sesuatu yang besar.

Kadang, ia bermula dari sekumpulan orang yang ingin mengajak teman-temannya tidak melewatkan detik-detik proklamasi. Kemudian lahirlah sembilan meter kain. Sembilan meter itu tumbuh menjadi 200 meter. 200 meter berkembang menjadi 1.000 meter. Dan kini menjadi 2.026 meter.

Setiap tambahan panjangnya seperti menandai satu hal: bahwa masih ada orang-orang yang ingin menjaga ingatan tentang kemerdekaan tetap hidup.

“Biarlah bendera ini panjang sepanjang-panjangnya, tentunya dengan semangat teman-teman,” tukasnya.

Mungkin merah putih itu memang akan terus memanjang. Bukan hanya karena kain baru terus ditambahkan, tetapi karena di setiap meternya ada tangan-tangan yang bersedia memegang, orang-orang yang bersedia menjaga, dan hati yang masih percaya bahwa kemerdekaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan. Ia adalah asa yang harus terus dirawat. Bahkan ketika Agustus telah pergi dan umbul-umbul helai merah putih telah diturunkan. (*)

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *