Napas Baru di Dapur Perbatasan: Saat Dapur Warga Merdeka dari ‘Tong’ Malaysia

DENTING kuali dan aroma tumisan bumbu dapur merebak hangat dari sebuah rumah di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, saat matahari pagi baru saja memunculkan wajahnya. Bagi Ibu Dama (61), kepulan asap dari atas kompornya setiap pagi kini membawa rasa tenang, sebuah perasaan sederhana yang selama puluhan tahun sangat mahal untuk ia gapai.

Penulis: Sunny Celine

Di tanah perbatasan yang berhadapan langsung dengan ‘Negeri Jiran’ ini, urusan dapur menjadi bagian perjuangan hidup yang berat. Selama berpuluh-puluh tahun lamanya, warga menggantungkan nasib pada ‘tong’ gas atau tabung gas berwarna kuning dan hijau milik Malaysia.

“Sudah berpuluh tahun kami pakai gas Malaysia karena tidak ada pilihan lain. Harganya mahal sekali, satu tong besar bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ujar Ibu Dama sembari mengingat masa-masa ketika uang dapurnya tersandera oleh barang negara tetangga.

Kendati demikian, kenyataan itu perlahan berganti saat tabung LPG 3 kilogram bersubsidi milik Pertamina mulai hadir menembus pelosok perbatasan. Bagi keluarga kurang mampu, hadirnya tabung hijau seharga Rp30 ribu per tabung di tingkat agen bukan sekadar urusan bahan bakar memasak, melainkan bentuk kemerdekaan ekonomi kecil di dalam rumah tangga.

Baca Juga :  Bertaruh di Lumpur Krayan, Mengantar Energi untuk Perbatasan

“Sekarang kami bisa hemat banyak. Uangnya bisa dipakai untuk kebutuhan keluarga yang lain, seperti sekolah anak. Kami lebih senang pakai LPG Pertamina daripada tong gas Malaysia. Harapan kami LPG ini ada terus, jangan sampai langka,” ucap Ibu Dama dengan penuh harap.

Menantang Sang Laut Demi Api Perbatasan

Dibalik itu, agar api di kompor Ibu Dama dan ribuan warga perbatasan tetap menyala, ada deru mesin kapal yang tak pernah berhenti menantang ganasnya gelombang lautan lepas. Dari Terminal Pengisian LPG di Kota Tarakan, Pak Hamsir (54), seorang nahkoda kapal, berani mengarungi perairan menuju Kabupaten Nunukan. Sewindu sudah Pak Hamsir bersama lima orang anak buah kapal (ABK) mengemban tugas menjadi pengantar energi di garis terluar Indonesia.

Di dalam lambung kapalnya, tersusun rapi 5.400 tabung LPG. Dalam sebulan, ia bisa 4 hingga 5 kali melayari rute lintasan Tarakan–Nunukan dan Pulau Sebatik.

Baca Juga :  Menembus Langit Krayan: Strategi Menjaga Energi di Perbatasan

“Sekali jalan memakan waktu semalam. Tapi kalau cuaca buruk dan ombak besar di laut lepas datang, kami harus cari tempat perlindungan terdekat. Perjalanan yang harusnya semalam bisa molor sampai tiga malam,” tuturnya.

Bagi pelaut senior ini, keterlambatan bukan sekadar soal molornya jam kerja. Ada rasa tanggung jawab moral yang mengganjal di dadanya, sebab ia paham betul, terlambat sedikit saja kapalnya bersandar di dermaga, ada dapur-dapur warga perbatasan yang terancam padam.

Menjaga Kedaulatan di Ujung Negeri

Pekerja memindahkan tabung LPG 3 kg bersubsidi ke atas truk agen resmi Pertamina di Pulau Sebatik, Nunukan, untuk disalurkan ke masyarakat. (FOTO: SUNNY CELINE/BENUANTA)

Perjuangan menantang lautan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Pertamina dalam menjaga kedaulatan energi nasional. Sales Branch Manager Kaltimut VIII Pertamina, Seftyan Reza Pangestu, menegaskan tantangan logistik di wilayah terluar tidak pernah menyurutkan langkah untuk hadir melayani masyarakat.

“Rata-rata setiap bulan kami menyalurkan 28.000 hingga 30.000 tabung. Walau harus menyeberang laut dari Tarakan menggunakan kapal, itu tidak menyurutkan semangat kami memenuhi mandat kemandirian dan swasembada energi di wilayah 3T yang berbatasan langsung dengan Malaysia,” tegasnya.

Baca Juga :  Bertaruh di Lumpur Krayan, Mengantar Energi untuk Perbatasan

Reza mengungkapkan, sejak program konversi bergulir, terjadi perubahan pola perilaku (shifting) yang signifikan pada masyarakat perbatasan. Warga yang dulunya bergantung pada tabung dari Malaysia, kini secara konsisten beralih menggunakan LPG nasional berstandar SNI. Selain subsidi LPG 3 kg, bahkan Pertamina juga memperkuat penetrasi Bright Gas untuk segmen non-subsidi.

“Kami memastikan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi agar masyarakat mendapatkan akses energi yang legal, berkualitas, dan harganya jauh lebih terjangkau dibanding produk tetangga,” tambahnya.

Cahaya Kedaulatan yang Tak Pernah Padam

Kini, ketergantungan pada tong gas Malaysia perlahan-lahan sirna. Kehadiran LPG Pertamina telah mengembalikan rasa berdaya dan kedaulatan di meja makan warga Nunukan.

Di garis batas negara, setiap denting kuali dan nyala biru kompor warga bukan lagi milik tetangga. Ada ketangguhan para pelaut dan para penjaga energi bangsa yang memastikan api dapur perbatasan tak pernah padam. (*)