Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang, Transportasi Laut Diminta Waspada

Bulungan5 views

benuanta.co.id, BULUNGAN – Kondisi kabut asap mulai menjadi perhatian di Tanjung Selor. Selain membuat kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat, kondisi tersebut juga menyebabkan jarak pandang terbatas sehingga pengguna transportasi laut diminta lebih waspada.

Forecaster Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan, Farid Hardiansyah mengatakan, jarak pandang di Tanjung Selor pada Minggu (30/8) hanya sekitar 2 kilometer.

Menurutnya, jarak pandang tersebut sudah cukup terbatas untuk aktivitas pelayaran, terutama jika kapal tetap melaju dengan kecepatan normal.

“Dengan jarak pandang sekitar 2 kilometer, kondisi pelayaran harus lebih diperhatikan. Operator kapal sebaiknya menyesuaikan kecepatan dengan keadaan di lapangan,” kata Farid, Senin (31/8/2026).

Baca Juga :  Asap Karhutla, Kualitas Udara di Bulungan Masuk Kategori Tidak Sehat

Ia meminta pengguna transportasi laut tidak memaksakan perjalanan dengan kecepatan tinggi ketika jarak pandang sedang terbatas. Kewaspadaan dinilai penting untuk mengantisipasi adanya kapal lain maupun kondisi di sekitar jalur pelayaran yang sulit terlihat.

“Yang paling penting adalah keselamatan. Kalau jarak pandang berkurang, kecepatan juga perlu dikurangi agar operator punya waktu untuk melihat dan merespons kondisi di depannya,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi udara di Tanjung Selor juga menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi PM2.5. Berdasarkan pengukuran pada pukul 13.00 WITA, konsentrasi PM2.5 tercatat 113,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
“Kondisi udara siang ini memang perlu menjadi perhatian karena nilai PM2.5 sudah berada pada kategori tidak sehat,” jelas Farid.

Baca Juga :  Kabut Asap Karhutla, Pembelajaran Siswa Bulungan Dialihkan ke Rumah

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan masih adanya hotspot di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kaltara, sebanyak 56 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang terpantau hingga pukul 14.54 WITA.

Titik panas tersebut masih didominasi di wilayah Tanjung Palas Timur. Sementara di Kalimantan Timur, jumlah hotspot tercatat lebih dari 400 titik dan sebagian berada di wilayah yang dekat dengan Kaltara.

Farid mengatakan, potensi kabut asap masih dapat meningkat apabila curah hujan tetap rendah. Kondisi tersebut diprediksi masih terjadi selama September, terutama di Tanjung Palas Timur dan bagian selatan Malinau.

Baca Juga :  Empat Hari Ikut Pemadaman Karhutla, Warga Sajau Hilir Meninggal di Lokasi Kebakaran

“Selama curah hujan masih rendah, potensi asap untuk bertahan di udara juga masih ada. Karena itu, kondisi cuaca dan kualitas udara perlu terus dipantau,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang menggunakan transportasi laut diimbau memperhatikan informasi cuaca sebelum melakukan perjalanan. Operator kapal juga diminta menyesuaikan kecepatan dan meningkatkan kewaspadaan selama berada di jalur pelayaran.

“Pengguna transportasi laut sebaiknya tidak hanya melihat kondisi saat berangkat, tetapi juga terus memperhatikan perubahan jarak pandang selama perjalanan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *