benuanta.co.id, TARAKAN – Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Utara menggelar kajian dan buka puasa bersama Ustad Hanan Attaki, Lc pada Senin (2/3/2026) di Tarakan Art & Convention Center (TACC) mulai pukul 15.45 WITA hingga selesai. Ribuan jamaah tampak antusias memadati lokasi untuk mengikuti kajian bertema Hati yang Tenang di Zaman yang Bising.
Dalam kajiannya, Ustad Hanan Attaki menyoroti pentingnya ketenangan batin bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial. Ia menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum membersihkan hati.
“Hati yang tenang itu lahir dari kemampuan kita mengendalikan diri di tengah kebisingan,” ungkapnya, Senin (2/3/2026)
Ia memaparkan, ada empat jenis ‘puasa’ mental yang dapat dilakukan untuk meraih ketenangan selama Ramadan. Menurutnya, konsep ini relevan bagi generasi muda yang akrab dengan teknologi dan media sosial. “Puasa mental ini membantu kita lebih fokus pada ibadah dan memperbaiki kualitas diri,” paparnya.
Pertama, ia memaparkan tentang ‘puasa modus’, yakni meninggalkan gangguan masa lalu agar dapat beribadah dengan khusyuk tanpa distraksi. Ia menyebut banyak orang sulit fokus karena masih terikat pada luka dan persoalan sebelumnya. “Kalau ingin ibadahnya dalam, tinggalkan gangguan masa lalu yang terus membebani pikiran,” jelasnya.
Kedua, ia mengingatkan pentingnya ‘puasa scrolling’ dengan mengurangi paparan berita negatif atau kebiasaan doom scrolling. Menurutnya, konsumsi informasi yang berlebihan dapat memicu kecemasan dan menurunkan kemampuan berpikir kritis. “Tidak semua yang muncul di layar harus kita ikuti, apalagi jika itu membuat hati semakin gelisah,” ucapnya.
Ketiga, Ustad Hanan mengangkat konsep ‘puasa drama’, yaitu melatih diri agar tidak reaktif terhadap perilaku toksik dan berhenti memposisikan diri sebagai korban. Ia menilai sikap reaktif hanya akan menguras energi emosional dan mengganggu ketenangan batin.
“Belajar untuk tidak reaktif adalah bagian dari menjaga kesehatan emosional,” terangnya.
Keempat, ia menjelaskan tentang ‘puasa validasi’, yakni berhenti mencari pengakuan di media sosial dan mengalihkan fokus pada penilaian Tuhan. Ia menekankan bahwa ketergantungan pada validasi manusia membuat emosi mudah naik turun.
“Kalau kita terus mencari pengakuan manusia, hati tidak akan pernah benar-benar mandiri,” tegasnya.
Secara keseluruhan, Ustad Hanan Attaki menyimpulkan bahwa pengendalian diri atas teknologi dan interaksi sosial merupakan kunci utama mencapai keikhlasan dan kesehatan mental. Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat kontrol diri dan memperdalam kualitas ibadah.
“Kendalikan diri, maka hati akan menemukan ketenangannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







