BULUNGAN – Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan agama bagi anak yatim dan keluarga kurang mampu terlihat dari tumbuhnya Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfiz Al-Qur’an di kawasan SP 4 Tanjung Buka, Kelurahan Tanjung Palas Hilir, Kecamatan Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan.
Anggota Komisi VII DPR RI Daerah Pemilihan (Dapi) Kalimantan Utara (Kaltara), Hj. Rahmawati, S.H, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam mendukung keberadaan pesantren yang baru beroperasi sekitar tiga bulan tersebut. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal penting dalam menghadirkan fasilitas pendidikan agama, khususnya bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Dirinya mengungkapkan, perkembangan pesantren ini juga tidak terlepas dari peran para alumni. Sebanyak 53 lulusan yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an turut memperkenalkan keberadaan pondok kepada keluarga dan masyarakat di daerah asal masing-masing.
“Cerita dan pengalaman para alumni menjadi salah satu jalan bagi masyarakat untuk mengenal pesantren ini. Dari sana, dukungan perlahan tumbuh bukan hanya dalam bentuk perhatian, tetapi juga keterlibatan langsung,” ungkapnya.
Bentuk keterlibatan tersebut terlihat dari kesediaan warga sekitar membantu pembangunan sejumlah fasilitas pendukung secara sukarela. Bahkan, masyarakat turut bergotong royong mengerjakan akses jalan menuju kawasan pesantren yang berada cukup jauh dari pusat keramaian.
“Semangat kebersamaan itu menjadi modal penting bagi pengelola dalam mengembangkan pesantren yang berdiri di atas lahan sekitar satu hektare,” ujarnya.
Dirinya menilai, dukungan terhadap pesantren tidak cukup hanya melalui perhatian sesaat. Keberlanjutan pembangunan fasilitas dan pemenuhan kebutuhan pendidikan juga perlu menjadi perhatian agar para santri dapat belajar dengan lebih nyaman.
Terlebih, pengelola telah menyiapkan sejumlah rencana pengembangan, di antaranya pembangunan rumah ustaz dan masjid di bagian depan kawasan pesantren. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan dukungan berbagai pihak karena belum diajukan kepada pemerintah daerah.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Tahfiz Al-Qur’an, Ustaz Marzuki, menjelaskan bahwa pesantren tersebut memang dibangun untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu agar tetap memperoleh pendidikan agama yang layak.
Meski baru beroperasi sekitar tiga bulan, santri yang menimba ilmu di pesantren tersebut tidak hanya berasal dari wilayah Kaltara. Sejumlah anak juga datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Pulau Jawa.
Menurut Marzuki, perbedaan daerah asal dan latar belakang keluarga tidak menjadi penghalang bagi para santri untuk belajar serta menjalani kehidupan bersama di lingkungan pesantren.
Bahkan, pihak pengelola terkadang harus membantu biaya perjalanan calon santri dari luar daerah, termasuk tiket pesawat, bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Keterbatasan biaya tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an,” tegasnya.
Marzuki menjelaskan, pemilihan lokasi di SP 4 Tanjung Buka juga didasarkan pada pertimbangan lingkungan yang relatif tenang dan jauh dari keramaian. Pihaknya bahkan pernah mendapat tawaran untuk membuka pesantren di kawasan perkotaan, tetapi memilih lokasi tersebut agar santri lebih fokus dalam menghafal Al-Qur’an.
“Kami pernah ditawarkan untuk membuka pesantren ini di kawasan kota. Namun, kita tolak,” tuturnya.
Untuk membentuk kedisiplinan santri, kegiatan pendidikan dimulai sejak pukul 03.30 WITA. Aktivitas diawali dengan salat tahajud berjamaah, dilanjutkan istigasah, salat subuh, membaca Surah Yasin, hingga menyetorkan hafalan Al-Qur’an.
Ia menambahkan, meskipun masih tergolong baru, pesantren tersebut bukan lembaga yang berdiri tanpa fondasi. Ponpes Tahfiz Al-Qur’an di SP 4 Tanjung Buka merupakan cabang dari pesantren pusat yang berada di Bentiang, Salim Batu.
Marzuki juga menyampaikan apresiasi kepada Rahmawati atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada para santri. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di pesantren.
“Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Rahmawati yang memberikan perhatian hingga bantuan kepada santri,” pungkasnya.
Keberadaan pesantren ini diharapkan terus berkembang dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak. Tidak hanya menjadi tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak yatim dan keluarga kurang mampu dari berbagai daerah untuk memperoleh pendidikan agama serta membangun masa depan.(*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina








