benuanta.co.id,BULUNGAN – Sektor pariwisata di Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan tren positif pada Juni 2025 lalu.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di provinsi ini mencapai 49,55 persen. Naik 0,73 poin dibandingkan Mei 2025 yang berada di angka 48,81 persen.
Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai mengatakan, kenaikan ini berarti hampir setengah dari total kamar hotel berbintang yang tersedia di Kaltara terisi sepanjang Juni 2025.
Hotel berbintang di provinsi ini tersebar di Kabupaten Bulungan, Kabupaten Nunukan, dan Kota Tarakan
Sementara itu, TPK akomodasi lainnya yang meliputi penginapan non-hotel berbintang tercatat 26,63 persen, naik tipis 0,04 poin dibandingkan bulan sebelumnya.
“Namun, jika dibandingkan dengan Juni 2024, angka ini turun cukup signifikan sebesar 8,06 persen,” katanya, Rabu (27/8/2025).
Berdasarkan wilayah, TPK hotel berbintang tertinggi di Kaltara pada Juni 2025 dicapai oleh Kabupaten Bulungan 29,29 persen, disusul Kota Tarakan 33,21 persen, dan Kabupaten Nunukan 17,33 persen.
“Kami juga mencatat rata-rata lama menginap tamu asing di hotel berbintang dan akomodasi lainnya di Kaltara pada Juni 2025 mencapai 2,35 hari. Lebih tinggi dibandingkan tamu domestik yang rata-rata hanya menginap 1,41 hari,” jelasnya.
Secara total, lama menginap tamu (asing dan domestik) di seluruh jenis akomodasi pada Juni 2025 adalah 1,42 hari, naik tipis 0,01 hari dibandingkan Mei 2025.
Untuk hotel berbintang saja, rata-rata lama menginap berada di angka 1,44 hari, sedikit turun 0,03 hari dari bulan sebelumnya.
Di kategori akomodasi lainnya, rata-rata lama menginap tertinggi pada Juni 2025 tercatat di Kabupaten Tana Tidung, yakni 1,65 hari. Kabupaten Bulungan menyusul dengan 1,61 hari, diikuti Kota Tarakan 1,36 hari, serta Kabupaten Malinau dan Nunukan masing-masing 1,19 hari,” tuturnya.
Peningkatan TPK dan stabilnya lama menginap tamu ini menjadi sinyal positif bagi geliat pariwisata Kaltara. Di tengah upaya pemulihan sektor ekonomi pasca-pandemi. (*)
Reporter: Ikke
Editor: Yogi Wibawa







