Menjaga Gerbang Digital, BSSN: PR Besar Keamanan Siber di Kalimantan

benuanta.co.id, TARAKAN – Tantangan dalam menjaga kedaulatan digital di Indonesia semakin kompleks. Di tengah derasnya serangan siber yang terus meningkat, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan pentingnya peningkatan kewaspadaan serta kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Meski jumlah insiden siber yang terlapor ke BSSN tampak kecil hanya 21 kasus dari Januari hingga Juli ancaman sebenarnya jauh lebih besar dari yang terdata.

“Memang jumlah insiden yang kami asistensi hanya 21 dari Januari sampai Juli. Tapi serangannya ada 3 miliar. Gap-nya sangat tinggi,” ungkap Direktur Operasi Keamanan Siber BSSN, Andi Yusuf, Rabu (30/7/2025).

Menurutnya, angka tersebut belum tentu mencerminkan kondisi riil. Banyak serangan yang tidak dilaporkan atau bahkan tidak disadari telah terjadi.

Baca Juga :  BI Kaltara Dorong Penguatan UMKM lewat Road to Khasafa di Bulan Ramadan

“Bisa jadi sistemnya sudah disusupi, tapi tidak sadar. Inilah yang menjadi PR kita bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan, literasi siber di kalangan ASN maupun masyarakat harus terus ditingkatkan.

“Saat ini kita pintar, tapi musuh kita lebih pintar besok. Ancaman siber terus berevolusi,” tegasnya.

Dari 21 insiden yang ditangani BSSN, bentuk serangan cukup beragam, seperti ransomware, akses ilegal, investasi bodong berbasis web, kebocoran data, hingga kompromi akun.

Sebagai upaya antisipasi, BSSN telah membangun sistem sensor monitoring dan HoneyNet untuk mendeteksi pola-pola serangan. Ia menyebut, BSSN berperan sebagai national Security Operation Center (SOC), namun mendorong agar setiap daerah juga membangun SOC sendiri.

“Kalau tidak ada tim khusus yang fokus pada keamanan siber, kita sudah kalah duluan. Musuh kita beraktivitas 24 jam sehari, 7 hari seminggu,” ujarnya.

Baca Juga :  Diskon Tiket PELNI Lebaran 2026 Berlaku 11 Maret–5 April

Salah satu langkah strategis adalah melalui jaringan HoneyNet BSSN yang kini telah tersebar di 28 provinsi dengan total 113 mitra. Di Kalimantan, terdapat 9 node aktif, rinciannya yakni Kalimantan Utara 1 node, Kalimantan Timur 1 node, Kalimantan Selatan 3 node, Kalimantan Barat 3 node, Kalimantan Tengah 1 node.

“Ini langkah awal yang baik untuk kolaborasi deteksi serangan di wilayah,” ujar Andi Yusuf.

Dengan data yang dikumpulkan dari perangkat-perangkat tersebut, BSSN mencatat lebih dari 3 juta aktivitas serangan siber di Kalimantan, melibatkan IP dari 347 negara. Pola serangan paling umum menyasar port SSH (22), web (80), dan SMB (445).

BSSN juga aktif mengirim notifikasi potensi ancaman ke berbagai institusi. Sejak awal tahun, sudah ada 1.052 notifikasi yang dikirim, namun baru 668 yang direspons. Sisanya, 384 notifikasi belum direspon.

Baca Juga :  Antisipasi Penyakit Ternak Kiriman, Pemprov Kaltara Mulai Terapkan Cek Point 

“Percuma kita kirim peringatan kalau tidak ada tindak lanjut. Sama saja seperti satpam yang bilang hati-hati ada maling, tapi rumahnya tetap tidak dikunci,” sindir Andi.

Ia menutup dengan menyoroti tantangan besar lainnya seperti jumlah ISP dan NAP (gerbang masuk internet) Indonesia yang mencapai 1.500–1.600. Bandingkan dengan Tiongkok yang hanya punya 1–3 gerbang yang diawasi ketat.

“Inilah pentingnya kolaborasi nasional dan regional. Supaya sistem pertahanan siber kita tidak bocor dari banyak pintu masuk,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *