Perkelahian Antar Mahasiswa, Psikolog Sebut Peran Kampus Sangat Besar

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus pengeroyokan antar mahasiswa di Tarakan sangat disesalkan masyarakat. Pasalnya, mahasiswa sebagai kaum intelektual dan agen perubahan.

Beberapa waktu lalu, Benuanta telah menghubungi pihak civitas akademika di Universitas Borneo Tarakan (UBT). Namun, pihaknya enggan berbicara banyak terkait perkelahian antar mahasiswa.

Saat bentrok pada 1 November 2023 lalu, sistem belajar mengajar langsung dialihkan ke daring. Salah satu Wakil Rektor UBT, Dr. Ir. Muhammad Djaya Bakri, ST, MT mengatakan dikeluarkannya surat edaran itu tidak sepenuhnya akibat kasus perkelahian antar mahasiswa.

“Karena mau ujian, jadi kita kombinasikan saja. Bukan juga karena yang kemarin (perkelahian, red),” ujarnya.

Menyikapi kejadian tersebut pihaknya pun tak ambil pusing. Pihaknya juga tak mau mempersoalkan kejadian tersebut. Menurutnya, itu hanyalah ulah dari oknum yang tak bertanggungjawab.

Baca Juga :  Dugaan Kecurangan Pemilu, KPU Tunggu Keputusan Bawaslu untuk PSU

“Kita nda mengerti soal itu. Kita juga tidak tahu siapa orangnya,” ujar dia.

Ia juga menyebut sejauh ini kampus cukup aman dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.

Sementara dari sisi psikologis, mahasiswa yang terlibat tawuran umumnya dinilai kompleks baik dari segi faktor internal maupun eksternal. Dikatakan akademisi psikologi Kaltara, Riski Sovayunanto, fenomena yang ada dikarenakan kepribadian mahasiswa yang masih berada di usia remaja.

“Memang remaja itu emosinya labil dan belum stabil. Hal ini juga didukung dengan adanya agresivitas. Di dalam diri kita ini ada agresif juga. Makanya kalau ada orang yang pendiam terus emosinya meluap itu agresifnya yang muncul,” jelasnya.

Baca Juga :  Kurir Sabu 10 Kg Dituntut Jaksa 18 Tahun Penjara

Riski melanjutkan, presivitas kelompok remaja tersebut juga menjadi faktor besar terjadinya perkelahian antar mahasiswa belakangan ini. Jika terdapat suatu masalah, maka akan cenderung mempertahankan atau membela kelompok tersebut. Maka agresivitas mendominasi dalam pikiran remaja itu.

“Secara psikologis memang agresifitas nya itu. Ditambah labil tidak berpikir panjang. Ada juga identitas dan jati diri, misalnya dia berpikir ada dimana, bersama siapa juga,” sambungnya.

Faktor eksternal terutama lingkungan juga mempengaruhi adanya perkelahian antar mahasiswa. Sementara faktor internal seperti pola asuh dimasa kecil yang kerap kali mendapatkan tindakan otoriter juga berpengaruh.

Menurutnya, pihak kampus harus mengambil peran besar dalam hal keosnya antar mahasiswa. Seperti membuat program kegiatan kebersamaan yang membangun empati dan simpati yang besar.

Baca Juga :  Basarnas Tarakan Gelar Simulasi Kecelakaan Pesawat Besok

“Peran kerjasama antar keluarga, instansi, sekolah atau kampus itu diperlukan. Seperti menggelar kegiatan kebersamaan yang sifatnya bukan kompetitif dan mengedepankan perdamaian. Yang bisa memfasilitasi itu ya pihak kampus karena mahasiswa banyak waktu di kampus kan,” ungkap Riski.

Tak hanya membuat program bersama, untuk mendekatkan hubungan emosional, ia menyarankan pihak kampus dan keluarga juga harus menjalin komunikasi intens agar orang tua mengetahui kegiatan mahasiswa di kampus tersebut.

“Jadi fakultas dan jurusan pro aktif agar orang tuanya juga ikut terlibat dan mengawasi langsung,” pungkasnya.(*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *