Membangun Karakter Positif pada Remaja SMPN 1 Tanjung Palas Utara

Indra Wahyuni, S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Tanjung Palas Utara Kab. Bulungan

PENDIDIKAN diharapkan bisa menjadi media dalam pembentukan karakter yang solid bagi peserta didiknya. Karena pendidikan karakter di sekolah bisa menjadi wahana untuk mengimbangi pesatnya perkembangan zaman yang cepat berubah ini. Pembentukan karakter dengan individu yang kokoh dapat membantu dalam pembentukan sikap positif tanpa harus bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Pendidikan karakter penting dilakukan untuk kemajuan pendidikan moral di Indonesia ini. Salahudin dan Alkrienciechie (2013:42) memaparkan bahwa karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Menurut Samani dan Hariyanto (2013:45) dalam bukunya menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa.

Baca Juga :  Hilirisasi Sumber Daya Alam dan Pangan Eksklusif Kalimantan Utara

Sistem karakter itu memiliki tiga unsur yang penting, yaitu Pengetahuan Moral (Moral Knowing), Perasaan Moral (Moral Feeling), dan Tindakan Moral (Moral Acting). Ketiga unsur tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Dengan kata lain, pendidikan yang baik tidak hanya mengedepankan Pengetahuan Moral (Moral Knowing) saja, tetapi juga mengembangkan Perasaan Moral (Moral Feeling), dan Tindakan Moral (Moral Acting) agar mereka mengetahui dan memiliki karakter yang luhur dan melakukan kebiasaan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang dijelaskan oleh Maharani dan Mustika (2016:25) melalui jurnal bimbingan dan konseling, faktor yang mempengaruhi pendidikan karakter dapat berasal dari diri sendiri atau dari luar diri sendiri. Bisa dari lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan pergaulan seseorang di masyarakat. Dari hal tersebut terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi karakter bisa berasal darimana saja. Termasuk berasal dari lingkungan sekolah. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar bagi para siswa. Tetapi lingkungan sekolah juga memberikan pengaruh disiplin dalam keseharian siswa.

Baca Juga :  Hilirisasi Sumber Daya Alam dan Pangan Eksklusif Kalimantan Utara

Oleh sebab itu, pendidikan karakter di sekolah menjadi sangat sentral sekali, dan diharapkan bisa menjadi alat untuk para generasi muda mengetahui karakter seperti apa yang patut dimiliki oleh seorang individu yang bisa memberikan manfaat dan perubahan yang baik bagi lingkungan di sekitar mereka.

Berbicara soal pembentukan karakter tentulah berkaitan erat dengan lamanya waktu. Budaya positif yang mewadahi nilai-nilai baik dalam aktivitas yang baik pula tidak dapat tercipta secara instan. Pembentukan karakter ini haruslah diawali dengan perubahan paradigma warga sekolah tentang apa sikap apa yang harus diubah, nilai-nilai apa yang ingin dicapai, serta bagaimana cara mewujudkannya.

Perubahan paradigma ini bukan saja harus dimulai oleh siswa namun juga dimulai dari setiap warga sekolah yang terlibat, terutama guru yang memiliki peran sentral dalam pembentukan perilaku positif setiap harinya. Untuk dapat mengarahkan, membimbing serta mengawasi nilai yang diterapkan siswa, maka guru harus sudah memiliki pemikiran mengenai budaya positif itu sendiri. Hal sederhana yang dapat diambil sebagai contoh ialah pandangan tentang definisi disiplin. Bisa dikatakan hampir setiap guru menganggap bahwa disiplin erat kaitannya dengan konsekuensi atau yang dikenal sebagai hukuman, padahal disiplin lebih dari sekedar penerapan konsekuensi dan melibatkan banyak aspek lain seperti keinginan siswa untuk mengubah dirinya dan membiarkan dirinya mengikuti instruksi yang diberikan oleh guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *