Sampah & Sungai Kayan Tanggungjawab Siapa?

Penulis: Obed Daniel L Tobing

SUNGAI Kayan di Tanjung Selor adalah salah satu sungai terpanjang di Kalimantan Utara. Sayangnya, sungai ini seringkali menjadi tempat pembuangan sampah yang sembarangan, baik oleh masyarakat setempat maupun oleh pihak industri. Hal ini tentu saja sangat merusak lingkungan sekitar dan dapat berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat. Tepian Sungai Kayan adalah pintu gerbang dan beranda depan kota Tanjung Selor yang merupakan juga Ibukota Provinsi Kalimantan Utara.

Tepian Sungai Kayan ini merupakan ikon kota tempat masyarakat banyak beraktifitas seperti berolahraga, bersantai bersama keluarga, bisnis UMKM dan aktifitas lainnya.  Namun saat ini menjadi pemandangan biasa adanya sampah kemasan makanan minuman yang ditinggalkan begitu saja oleh masyarakat di tembok pembatas sungai kayan (siring), belum terhitung yang langsung dibuang ke badan sungai.

Pembuangan sampah di tepian sungai Kayan dapat menyebabkan pencemaran air yang sangat serius. Sampah yang terbuang (dibuang) sembarangan akan terbawa oleh arus sungai dan dapat mengendap di dasar sungai. Hal ini dapat merusak ekosistem sungai dan mempengaruhi kehidupan berbagai makhluk hidup di dalamnya, termasuk ikan dan tumbuhan air.

Sampah juga dapat menyebabkan penumpukan yang dapat menyebabkan genangan air dan meningkatkan risiko banjir. Sampah yang menumpuk di tepian sungai dapat menghambat aliran air dan menyebabkan air meluap ke daratan. Selain itu, sampah yang menumpuk di tepian sungai juga dapat mengganggu keindahan alam sekitar dan menciptakan polusi visual yang tidak menyenangkan.

Sampah di tepian sungai Kayan juga dapat menyebabkan dampak kesehatan yang serius. Sampah dapat menyebabkan penyebaran penyakit dan wabah, seperti demam berdarah, malaria, dan leptospirosis. Selain itu, sampah juga dapat menyebabkan kerusakan kulit, infeksi, dan masalah pernapasan jika tidak diolah dengan baik.

Baca Juga :  HPN 2024, Pemilu dan Konstruksi Demokrasi Berkualitas

Menjadi pertanyaan dalam diri kita, siapa yang bertanggungjawab dengan kondisi ini?  Apakah pemerintah, atau masyarakat umum, atau pihak swasta/pedagang makanan dan minuman?  Mengatasi masalah sampah adalah tanggungjawab bersama, semua elemen masyarakat wajib bertanggungjawab. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi masalah sampah di tepian sungai Kayan dan lingkungan sekitarnya.

Pemerintah dapat memperketat aturan pembuangan sampah dan meningkatkan penegakan hukum untuk menekan pembuangan sampah sembarangan. Selain itu, masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam program kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.

Dalam jangka panjang, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat harus diajarkan bagaimana membuang sampah yang benar dan bagaimana mendaur ulang bahan-bahan tertentu. Selain itu, perlu ada pengembangan sistem pengolahan sampah yang lebih baik untuk mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan.

Seperti konsep pilah sampah dari rumah-namun disisi petugas sampah belum mampu mengangkut secara terpisah karena terbatasnya armada maka praktis sampah terkumpul lagi menjadi satu, dan konsep 3R/5R.

Penulis dalam beberapa kesempatan selalu menekankan salah satu solusi permasalahan sampah adalah penyadaran dan perbaikan sikap dan perilaku individu (habit) yang dibangun dari usia dini dalam keluarga yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari hari terhadap kebiasaan membuang sampah pribadi.

Terlebih dengan pendekatan keagamaan, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman tidak sebatas selogan yang didengungkan sejak dulu, namun praktek nyata dalam hidup kita siapa pun orangnya, apapun pangkat dan jabatannya.

Baca Juga :  HPN 2024, Pemilu dan Konstruksi Demokrasi Berkualitas

Tidak sedikit perilaku buang sampah sembarangan justru adalah orang yang berpendidikan tinggi, orang terpandang dan bahkan merasa ilmu keagamaannya tinggi dibanding orang kebanyakan.  Bangsa kita sangat religius dan taat terhadap ajaran agamanya masing2,  ini sebenarnya adalah modal penting untuk membangun kebiasaan dan perilaku tidak membuang sampah sembarangan, bahwa membuang sampah adalah Tindakan yang merugikan bagi makhluk hidup lain dan merupakan perbuatan tercela.

Negara kita Indonesia adalah negara beragama, dalam banyak agama menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya merupakan tindakan yang sangat dianjurkan. Beberapa agama bahkan mengajarkan bahwa tidak menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah sembarangan merupakan dosa yang harus dihindari.

Dalam agama Islam, membuang sampah pada tempatnya merupakan tindakan yang sangat dianjurkan. Dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Salah satu hadis yang terkenal adalah “Membersihkan masjid dan menjaga kebersihannya sama dengan melakukan ibadah shalat.”

Dalam agama Kristen, menjaga kebersihan lingkungan juga merupakan tindakan yang sangat penting. Dalam Alkitab, ada banyak ayat yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan merawat bumi sebagai hadiah dari Tuhan. Salah satu contohnya adalah di Kejadian 2:15 yang menyatakan, “Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengurusnya dan menjaganya.”

Dalam agama Hindu, menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya merupakan tindakan yang sangat penting dalam menjaga keselarasan alam semesta. Konsep dharma, atau tindakan yang benar dan harmonis, mengajarkan bahwa manusia harus hidup dalam keselarasan dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Dalam agama Buddha, menjaga kebersihan lingkungan juga merupakan tindakan yang sangat penting. Konsep karma mengajarkan bahwa tindakan-tindakan kita dapat mempengaruhi dunia dan lingkungan sekitar kita. Oleh karena itu, membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari tindakan yang baik dan dapat membawa kebahagiaan bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.

Baca Juga :  HPN 2024, Pemilu dan Konstruksi Demokrasi Berkualitas

Dalam agama Konghucu, menjaga kebersihan lingkungan juga merupakan tindakan yang sangat penting. Konsep junzi, atau tindakan yang benar, mengajarkan bahwa manusia harus hidup dalam keselarasan dengan alam dan lingkungan sekitarnya, serta memperhatikan tindakan yang baik dan sesuai etika.

Secara keseluruhan, semua agama mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga alam dan lingkungan sekitar untuk keberlangsungan hidup manusia di bumi. Oleh karena itu, sebagai manusia yang bertanggung jawab, kita harus terus mengingatkan diri sendiri dan orang lain untuk menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya, serta mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Mengakhiri tulisan saya kali ini, saya ingin menekankan betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Kita perlu menyadari bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak pada lingkungan alam dan kita harus memperhitungkan dampak tersebut saat melakukan tindakan.   Mari kita saling mengingatkan dan mempraktikkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mewujudkan Provinsi Kalimantan Utara yang lebih bersih dan sehat.

“Sampah yang dihasilkan oleh manusia bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah moral.” – Mahatma Gandhi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *