Eksploitasi Anak Masih Jadi Atensi Mensos

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus eksploitasi terhadap anak di bawah umur masih menjadi pemandangan di lingkungan Kota Tarakan. Tak jarang, anak di bawah umur ini berjualan di titik lampu merah pusat Kota Tarakan.

Bahkan, mereka kerap kali mendatangi cafe satu ke cafe lainnya untuk sekedar menarik perhatian masyarakat agar membeli dagangannya.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan predikat Kota Layak Anak (KLA) yang baru saja disematkan untuk Kota Tarakan. Pun hal ini menjadi kesenjangan sosial di tengah masyarakat yang seharusnya hidup sejahtera.

Baca Juga :  Polisi Dalami Kasus Laka Maut Depan Gudang Barang Gunung Belah, Kecepatan Motor dan Manuver Truk Disorot

Terkait hal ini kepada benuanta.co.id, Menteri Sosial Republik Indonesia, Tri Rismaharini menjelaskan masih mendalami terkait eksploitasi anak yang terjadi di beberapa wilayah salah satunya Kota Tarakan.

“Semalam kita ketemu dua anak. Sekarang kita dalami masalahnya itu apa. Karena kalau kita cuma membeli terus tidak boleh itu akar masalahnya tidak terpegang. Saya harus cari dulu akar masalahnya,” tegasnya, Rabu (25/1/2023).

Setelah mencari tahu akar masalah nantinya akan didapati faktor yang berurutan. Misalnya anak tersebut memiliki sifat yang nakal maka pihaknya harus cari tahu apa yang menyebabkan anak tersebut nakal.

Baca Juga :  PH Kurator akan Tempuh Jalur Hukum Jika Aset PT Gusher Tak Dikosongkan

“Karena kalau kita selesaikan permukaan kita tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya. Ini contoh misalnya anak ini pernah dilecehkan oleh ayah tiri ternyata setelah kita cari akar masalahnya adalah dia tidur dalam satu ruangan,” beber mantan Walikota Surabaya itu.

Sejauh ini pihaknya masih melakukan pendalaman salah satunya ke pihak psikolog. Termasuk kasus eksploitasi anak di Tarakan tengah pihaknya dalami.

Baca Juga :  Satu DPO Kasus Pencurian Tertangkap di Belakang BRI, Judi Slot Jadi Alasannya

“Nanti kalau ada hasilnya berarti saya harus menangani secara khusus. Misalnya permasalahan psikolog kah atau ekonomi atau sosial. Jadi misalnya dia (orang tua) miskin, mau bagaimana. Percuma kita kasih tau kalau kondisinya seperti itu,” urai Risma.

Untuk mendalami kasus di wilayah lain pihaknya juga telah mendirikan balai di setiap wilayah. Balai ini digunakan untuk mendalami kasus anak di wilayah tersebut. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor : Nicky Saputra 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *