oleh

Bupati dan Wabup Hadiri Rangkaian Bakudung Batiung

TANJUNG REDEB – Bupati Berau, Hj. Sri Juniarsih beserta suami dan Wakil Bupati Berau, H. Gamalis beserta istri mengikuti serangkaian acara Bakudung Batiung sekaligus Peringatan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-256 Serta Peresmian SPBU BUMK Gaai Makmur, di Kampung Tumbit Dayak Kecamatan Sambaliung, pada Selasa (28/6/2022).

Hadir pula pada hajatan tahunan tersebut, Sekda Berau Ir Muhammad Gazali, Asisten I Setda Berau Ir M Hendratno, Asisten III Setda Berau Hj Maulidiyah, Ketua DPRD Berau Madri Pani, Wakil Ketua II DPRD Berau H Ahmad Rifai, dan sejumlah Kepala OPD di lingkungan Pemkab Berau.

Pada kesempatan tersebut Bupati, Hj. Sri Juniarsih mengatakan, tradisi batudung batiung ini hendaknya juga dapat memaksimalkan potensi sumber daya manusia dengan berbagai macam kerajinan khas daerah. Sehingga masyarakat pun akan maju secara ekonomi.

Menurutnya akan lebih berkesan jika acara tersebut bukan hanya dianggap sebagai wahana hiburan, tapi harus dihayati dan dimaknai sebagai kewajiban bersama dalam merawat kekayaan budaya agar terus dapat dilestarikan dan bermanfaat bagi generasi-generasi selanjutnya.

“Harapannya dapat memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan UMKM, yang merupakan program unggulan kami saat ini juga. Kami sampaikan mengenai jaringan internet, kami berjanji untuk mengadakan 1000 titik wifi gratis, terutama di kampung wisata, termasuk di Kampung Tumbit Dayak Dayak insya Allah akan direalisasikan tahun ini,” papar Bupati Hj. Sri Juniarsih.

Bupati juga mengapresiasi program Kampung membangun SPBU sebagai Badan Usaha Milik Kampung (BUMK). Diharapkan keberadaan SPBU ini akan memacu peningkatan perputaran roda perekonomian masyarakat di kampung.

Pada tradisi yang merupakan bagian dari tradisi Suku Dayak Gaai yang sudah dilakukan secara turun temurun tersebut. Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, menjelaskan Bakudung adalah bahasa Berau, terjemahan dari bahasa Gaai (Nae Plie Ngatam) yang artinya adalah pesta syukuran setelah panen.

Maknanya, untuk menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan atas perolehan kesehatan, keselamatan dalam bekerja dan secara khusus perlindungan terhadap tanaman padi masyarakat. Mulai saat menabur benih sampai panen yang disertai dengan ritual-ritual adat. Batiung adalah bahasa Berau terjemahan dari kata Lamko, artinya pendewasaan anak laki-laki.

“Pada zaman dahulu kegiatan ini dibuat terpisah, tetapi sekarang digabung menjadi satu perayaan, maka muncullah bahasa Bakudung Batiung,” ungkapnya.

Dikatakan Ahmad Jamlan, Kabupaten Berau bukan hanya kaya dengan wisata baharinya, namun adat istiadat dari masing-masing suku yang berada di pedalaman Kalimantan Timur ini juga masih selalu terjaga.

Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan acara adat yang masih dipegang masing-masing kampung juga bertujuan untuk mempererat kebersamaan dan membangun serta memperkenalkan budaya kepada anak cucu mereka. (adv)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

eight + 7 =