TARAKAN – Ahad 10 Mei 2020 dinihari sekira pukul 03.00 WITA tadi, warga Jembatan Besi (Jembes), Kelurahan Lingkas Ujung dihebohkan dengan penampakan angin puting beliung.
Bahkan, viral di media sosial video amatir yang memperlihat warga Jembes keluar rumah untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.
Menanggapi fenomena alam yang disaksikan warga pesisir wilayah Lingkas Ujung ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan memberikan penjelasannya.
Muhammad Hermansyah, Prakirawan BMKG Tarakan mengatakan, puting beliung adalah suatu kolom udara berpusar yang kencang muncul dari bawah awan cumulonimbus dan mencapai permukaan. Arah pusaran udara umumnya siklonik.
Di kawasan tropis wilayah benua Indonesia kondisi puting beliung yang umumnya terjadi di darat terjadi pada siang, sore hari dan malam hari. Namun apabila fenomena tersebut terjadi di laut, maka disebut sebagai waterspout.
“Jadi kalau kejadiannya di laut atau perairan disebut sebagai waterspout,” ungkap Hermansyah kepada benuanta.co.id.
Lanjutnya, kecepatan angin puting beliung atau waterspout lebih dari 40 knot dengan durasi singkat (sekitar 3-5 menit) akibat adanya perbedaan tekanan sangat besar, dalam area skala sangat lokal yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).
“Berdasarkan analisis, kondisi labilititas udara di wilayah Tarakan saat ini sangat kuat. Kondisi ini mampu meningkatkan proses konvektif potensi pertumbuhan awan cumulonimbus pada skala lokal,” ujarnya.
Awan cumulonimbus adalah awan yang besar dan menjulang tinggi sebagai awan hujan. Dampak awan cb dapat memicu terjadinya hujan es, guruh, kilat, hujan deras, dan kadang-kadang terjadi angin kencang (puting beliung atau waterspout).
“Dalam 3 hari kedepan labilitas udara diprakirakan masih cukup kuat, sehingga potensi pertumbuhan awan cumulonimbus yang menghasilkan hujan disertai petir dan angin kencang, dalam durasi singkat masih dapat terjadi di wilayah Tarakan dan sekitarnya,” imbuhnya.
Diakui Hermansyah, fenomena alam yang disaksikan warga Jembes di waktu sahur ini, tidak terpantau oleh satelit dari stasiun meteorologi Tarakan.
“Karena kejadiannya sangat lokal dan singkat maka citra satelit tidak dapat mendeteksi, namun berdasarkan pengamatan cuaca dari stasiun meteorologi Tarakan, pada dini hari terlihat ada awan konvektif di wilayah perairan barat Tarakan,” terangnya.
“Untuk fenomena puting beliung sendiri yang terjadi pada dini hari tidak teramati dari stasiun meteorologi Tarakan,” tutupnya.(*)
Reporter: Ramli
Editor: M. Yanudin







