Kunjungi Hope Academy, Kadispora Kaltara Komitmen Perkuat Pembinaan Basket Usia Dini

benuanta.co.id, TARAKAN – Pembinaan atlet basket usia dini menjadi salah satu perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) dalam upaya mencetak prestasi olahraga secara berkelanjutan. Komitmen tersebut terlihat saat kunjungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) ke latihan Hope Academy di K3 Arena, Jalan Lili 5, Kelurahan Pasir Putih, Tarakan, Sabtu (20/6/2026).

Selain menyaksikan langsung proses latihan, kunjungan itu juga dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi pelatih mengenai kebutuhan pembinaan basket di daerah.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Utara, Dr. Bustan, S.E., M.Si., mengapresiasi konsistensi Hope Academy dalam membina atlet sejak usia dini. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan secara berjenjang menjadi modal penting untuk melahirkan pebasket berprestasi yang mampu mengharumkan nama daerah hingga tingkat nasional maupun internasional.

“Kita bisa melahirkan atlet-atlet cabang olahraga basket bukan hanya bertaraf lokal saja. Harapan saya kita bisa berkontribusi terhadap prestasi di level nasional, bahkan internasional,” ungkapnya.

Ia menilai olahraga basket tidak hanya membentuk kemampuan teknik, tetapi juga karakter generasi muda. Karena itu, Bustan mengajak seluruh peserta latihan untuk menjaga semangat berlatih secara disiplin dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.

“Saya yakin ketika kita rutin berolahraga, kita akan cinta budaya olahraga. Kita akan kuat, sehat, cerdas, dan produktif. Kalian adalah calon-calon pemimpin masa depan yang memiliki mental kuat dan integritas,” katanya.

Bustan juga mengingatkan pentingnya mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai dengan memperbanyak aktivitas olahraga. Ia berharap para atlet muda terus mengikuti arahan pelatih dan menjaga pola hidup sehat agar pembinaan yang dijalani memberikan hasil maksimal.

“Saya menyampaikan kepada anak-anak apa yang menjadi arahan pelatih diikuti, disiplin ya. Agar jadi pemain nasional. Jaga kesehatan, jaga pola makan, terus latihan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Bustan, keberhasilan pembinaan tidak dapat dicapai apabila latihan dilakukan secara tidak konsisten. Oleh karena itu, ia meminta para atlet tetap menjaga kontinuitas latihan agar mampu menjadi kebanggaan keluarga maupun daerah.

“Jangan satu hari atau satu minggu latihan, minggu depannya tidak latihan. Jadi harus berkesinambungan sehingga menjadi atlet-atlet kebanggaan keluarga, kebanggaan Kota Tarakan dan Provinsi Kalimantan Utara,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bustan juga membuka ruang diskusi dengan para pelatih untuk menyerap berbagai masukan terkait kondisi pembinaan basket di Tarakan. Masukan tersebut, menurutnya, akan menjadi bahan penyusunan kebijakan Dispora Kaltara dalam mendukung perkembangan cabang olahraga basket.

“Sebagai langkah kolaborasi, kami juga membuka ruang diskusi kepada para pengurus agar bisa mewujudkan atlet yang maksimal dan berkualitas,” ungkapnya.

Menanggapi berbagai aspirasi, Bustan menyatakan Dispora Kaltara siap memperkuat kolaborasi dengan komunitas basket untuk meningkatkan kualitas pembinaan. Ia mengungkapkan telah melihat langsung potensi besar atlet muda yang sedang dibina di Hope Academy dan optimistis pembinaan tersebut dapat menghasilkan prestasi apabila didukung program yang berkesinambungan.

“Ketika berkunjung, saya melihat pembinaan usia 4 sampai 18 tahun. Nanti kita juga akan berkolaborasi dengan teman-teman cabang olahraga basket,” tukasnya.

Sementara itu, salah satu pelatih Hope Academy, Josua, menyampaikan pembinaan basket usia dini di Tarakan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan fasilitas latihan yang layak. Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan lapangan yang lebih representatif sehingga anak-anak dapat berlatih dengan aman.

“Kalau kita menggunakan fasilitas pemerintah ada yang sudah rusak. Anak-anak sangat berbahaya kalau latihan dalam kondisi lapangan yang tidak baik. Ke depan kami berharap ada lapangan yang memang bisa digunakan untuk latihan ataupun training camp,” katanya.

Selain fasilitas, Josua juga menyoroti minimnya kompetisi basket usia dini yang digelar secara rutin. Menurutnya, pertandingan sangat dibutuhkan untuk mengukur perkembangan kemampuan atlet hasil pembinaan.

“Kalau hanya latihan tanpa event, kita tidak bisa melihat sejauh mana perkembangan anak-anak. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih sering ada event,” ujarnya.

Ia menjelaskan selama ini penyelenggaraan turnamen usia dini lebih banyak diinisiasi oleh sekolah, sedangkan kompetisi yang difasilitasi pemerintah masih terbatas. Di sisi lain, kondisi lapangan basket outdoor juga menjadi kendala ketika cuaca tidak mendukung.

“Kalau di Tarakan lapangannya outdoor. Jadi kalau hujan kami tidak bisa latihan. Itu salah satu kendala kami selain minimnya event antar kelompok umur,” jelasnya.

Josua menambahkan, Hope Academy saat ini membina atlet mulai usia 4 hingga 18 tahun dengan sistem pembinaan berjenjang yang membutuhkan proses panjang. Karena itu, dukungan pemerintah melalui penyediaan kompetisi dan fasilitas dinilai sangat penting agar pembinaan dapat berjalan optimal.

“Kami menjaga jenjang pembinaan dari usia 4 sampai 18 tahun. Proses ini tidak satu atau dua tahun, tetapi berkelanjutan,” tandasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *