TARAKAN – Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum menerima bantuan sosial (Bansos) terdampak Covid-19 di daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Termasuk Kota Tarakan, yang mana penerapan PSBB sudah mulai direlaksasi oleh Pemkot secara bertahap.
Bantuan yang sangat diharapkan masyarakat khususnya dengan ekonomi tak mampu ini pun tak kunjung diterima oleh beberapa warga di RT 28, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat.
Diungkapkan Siti Maisaroh, warga Gang Bhakti, RT 28 mengaku, belum pernah menerima bantuan sekali pun oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sejak ditetapkanya pandemi ini.
Padahal bantuan sembako tahap pertama dari Pemkot saja sudah membagikan 6.667 KK di 20 Kelurahan yang ada di Tarakan, belum lagi bantuan serupa dari Pemprov Kaltara, atau juga dari Kementerian Sosial.
“Sama sekali belum pernah dapat (bantuan), ada sekali dapat beras dari DPR. Tidak tahu DPR siapa yang kasih. Waktu itu ini (bantuan) dari hati nuraninya orang DPR itu katanya,” ujar Siti Maisaroh kepada benuanta.co.id.
Sebelum pandemi, Siti yang keseharianya membuat kerupuk renginang untuk memenuhi kebutuhan dapur bagi keempat anaknya ini mengaku sangat merasakan dampak ekonomi akibat Covid-19 ini. “Ada 6 orang di rumah dan suami juga sudah tua kadang kerja, kadang tidak,” akunya.

Tak hanya Siti, beberapa warga RT 28 lainnya juga kata dia, hingga sekarang belum menerima bantuan. Praktis, ini akan mengundang pertanyaan di masyarakat ke mana dan kapan Bansos itu akan tersalurkan. “Tapi kemarin ada tetangga yang RT sini juga bilang dia ada dapat Rp 600 ribu itu. Makanya kita beberapa warga sini yang rata-rata belum dapat ini harapnya bisa dapat juga gitu,” katanya.
Meski belum menerima bansos hingga sekarang dan juga tak melapor ke RT atau ke lurah setempat, lantaran berharap kedua garda terdepan bagi masyarakat itu dapat menilai sendiri kondisi ekonomi warganya.
Terlebih rumah kontrakan milik saudaranya yang dihuninya sejak 1997 silam itu tampak tak memungkinkan jika harus diabaikan pemerintah sebagai penerima bantuan. “Belum hubungi juga, karena tak kirain RT-nya tahu sendiri lah keadaan warganya gitu,” terangnya.
Saat dikonfirmasi benuanta.co.id bersama dengan beberapa warga, Ketua RT 28 Karang Anyar, Darkam menjelaskan, semua bantuan kepada warganya sudah disalurkan dengan tepat sasaran. “Kemarin itu ada 8 KK yang menerima sembako tahap pertama 4 KK, tahap kedua 4 juga. Terus yang dari provinsi ada 4 juga yang Rp 200 ribuan, semua ada. Jadi alhamdulillah ada yang tepat sasaran juga,” jelasnya.
“Ada yang dari sosial saya mengajukan 4 KK, tapi disuruh cari 1 KK saja yang dikira benar-benar wajib menerima,” sambungnya.
Sedangkan kriterianya untuk menetapkan warga yang berhak mendapatkan bantuan tersebut, terdiri dari Lansia, kepala keluarga yang tak berkerja dan menanggung anak serta cucu yang menjadi prioritasnya.
Kendati demikian, sejatinya Siti dan beberapa warga lain yang selama ini belum menerima bantuan, sudah dimasukan Darkam pada bantuan tahap kedua yang masih dalam proses verifikasi dan validasi data oleh Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Tarakan, dengan sasaran penerima hingga 10.000 KK dan sudah dibagikan sekitar 3.000 KK sebelum Idulfitri lalu.
Hanya saja, lanjutnya, ia belum menyampaikan kepada warganya yang menjadi calon penerima bantuan. Sebab, hal tersebut dilakukannya agar warga tak kecewa jika bantuan tersebut terlambat dalam distribusinya, atau penyalurannya benar-benar dihentikan oleh pemerintah.
“Data yang kedua ini saya masukan 40 KK. Sebagian memang tidak saya kasih tahu. Nanti saya ngomong sama yang bersangkutan, ujung-ujungnya lama atau tidak dapat, nanti pasti ditagih saya. Begitu sebenarnya,” imbuhnya.
Disinggung soal transparansi data dan informasi terhadap warganya. Ia kembali menegaskan, bahwa selama ini tak membatasi, atau menutupi. Hingga sistem tebang pilih terhadap penerima bantuan pun tak akan dilakukan terhadap warganya.
“InshaAllah transparan dari RT. Tapi kadang-kadang yang dari pusat itu kan tidak transparan, misalnya yang seharusnya dapat (bantuan) malah tidak dapat gitu loh. Karena itu dari pusat, jangankan saya, Pak lurah saja tidak ngerti,” tandasnya.(*)
Reporter : Yogi Wibawa
Editor : M. Yanudin







