benuanta.co.id, TARAKAN – Kebakaran yang terjadi di Gang 3 Markoni RT 23, Kelurahan Pamusian, Tarakan, Kamis (8/10/2026) siang, sempat mengancam permukiman warga. Material berupa bambu kering yang terbakar berada di kawasan padat penduduk dengan sejumlah rumah warga di sekitar titik api.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Tarakan, Eko Supriyatnoko, mengatakan laporan kebakaran diterima sekitar pukul 11.48 WITA. Begitu informasi diterima, regu pemadam langsung bergerak menuju lokasi dan tiba sekitar pukul 11.55 WITA. Sebanyak empat unit dikerahkan, masing-masing dua unit dari Sektor Barat dan dua unit dari Markas Komando (Mako) Kampung 1.
Setibanya di lokasi, petugas mendapati sampah dan bambu kering yang terbakar. Bambu tersebut sebelumnya ditebang dan kemudian dibakar. Api sempat membesar dan menimbulkan suara letupan sehingga membuat masyarakat sekitar panik.
“Yang terbakar sampah. Api sempat membesar memang karena bambu, bambu yang habis ditebang dibakar. Pasti ada suara ledakan, sering meletup-letup, itu yang bikin masyarakat panik,” ujarnya.
Kekhawatiran semakin besar karena lokasi kebakaran berada di tengah permukiman padat. Sejumlah bangunan di sekitar lokasi, termasuk rumah berbahan kayu, membuat potensi api merambat menjadi kebakaran permukiman cukup tinggi apabila penanganan terlambat.
“Padat penduduk dan sulit dijangkau aksesnya. Tadi bisa dilihat, bisa dibayangkan ini rumah kayu. Kalau lambat informasi kita terima, mungkin lain cerita. Lain cerita, pasti lain cerita,” tegasnya.
Kecepatan laporan masyarakat dan respons petugas menjadi faktor penting dalam mencegah api berkembang. Petugas langsung melakukan pemadaman sekaligus pendinginan setelah api berhasil dikendalikan.
Sekitar pukul 12.24 WITA, proses penanganan dinyatakan selesai. Petugas memastikan tidak lagi ditemukan asap maupun bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Menurut Eko, kejadian tersebut juga menjadi perhatian karena pembakaran sampah dilakukan di kawasan permukiman. Pihaknya menerima informasi dari masyarakat bahwa pembakaran diduga dilakukan seorang warga berinisial D yang menurut keterangan warga sekitar mengalami gangguan jiwa (ODGJ).
Bahkan, masyarakat menyebut kejadian serupa diduga pernah terjadi sebelumnya. Namun, petugas belum menemukan bukti langsung berupa rekaman video maupun kamera pengawas yang dapat memastikan pihak yang melakukan pembakaran.
“Masyarakat memang resah. Cuma masyarakat kan enggak punya bukti. Mereka saksi, menyaksikan iya, tapi enggak ada video, enggak ada kamera,” katanya.
Guna menindaklanjuti informasi tersebut, Damkar akan berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan pihak kelurahan. Langkah yang diharapkan dilakukan berupa pemanggilan serta edukasi terhadap warga yang bersangkutan.
“Minimal melalui Kasi Trantib Kelurahan juga bisa melakukan pemanggilan edukasi,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, pembakaran sampah di kawasan padat penduduk harus menjadi perhatian karena material seperti bambu kering dapat membuat api cepat membesar. Terlebih ketika titik pembakaran berada dekat bangunan rumah warga. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







