benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat membersihkan maupun membuka lahan, terutama dengan cara membakar. Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan semak dapat dengan cepat merambat ketika kondisi lahan kering dan disertai angin.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul tiga titik kebakaran lahan yang terjadi sejak pertengahan pekan lalu. Kepala BPBD Tarakan, Yonsep mengatakan, seluruh titik kebakaran tersebut berada di wilayah Kelurahan Amal, Tarakan Timur, dengan sebagian lokasi mulai mendekati kawasan permukiman warga.
“Dari pertengahan minggu yang lalu sampai masuk ini, ada tiga titik kebakaran dan itu lahan,” ujarnya, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, kebakaran di kawasan semak memiliki tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Petugas tidak selalu bisa langsung menjangkau titik api karena akses menuju lokasi terkadang harus dibersihkan terlebih dahulu.
Kondisi semakin sulit ketika angin bertiup kencang. Api dapat berpindah dari satu titik ke titik lainnya sehingga potensi kebakaran meluas menjadi lebih besar.
“Kalau semak itu disertai angin, apalagi seperti yang di Amal, agak sulit. Untuk masuk ke dalamnya harus dibersihkan dulu untuk menjangkau titik api,” jelasnya.
BPBD juga menemukan adanya lahan produktif masyarakat yang terdampak kebakaran. Tanaman pepaya dan cabai di kawasan Amal dilaporkan mengalami kerusakan, sementara di wilayah Sungai Kuli terdapat tanaman tahunan yang turut terdampak.
Secara akumulatif, luas lahan yang terdampak dari kejadian tersebut mencapai sekitar 8 hektare. Yonsep mengatakan, salah satu kebakaran yang terjadi di lahan sekitar 1,5 hektare berkaitan dengan aktivitas pembersihan kebun. Tanaman produktif yang berada di dalamnya ikut terdampak setelah api menyebar.
“Yang kebunnya terbakar kemarin yang 1 hektare setengah itu berkaitan dengan tanaman cabai. Itu kelalaiannya sendiri, si pemilik kebun sendiri,” ungkapnya.
Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap pembakaran semak atau tumpukan tanaman sebagai aktivitas yang aman. Material kering yang dibakar dapat menjadi sumber api, sementara angin berpotensi membawa bara ke bagian lahan lain.
Yonsep menjelaskan, masyarakat selama ini terkadang membersihkan lahan dengan menumpuk sisa tanaman untuk kemudian dibakar. Namun, ketika kondisi material sudah kering, api dapat dengan mudah menjalar ke area sekitarnya.
“Api itu tidak bisa kita bilang hanya di sini titiknya. Api bisa terbang, maksudnya ditiup angin, berpindah seperti itu,” ujarnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan karena aktivitas perkebunan di Tarakan Timur relatif lebih banyak dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.
Selain tidak melakukan pembakaran sembarangan, masyarakat diminta memastikan kondisi sekitar sebelum melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Ketersediaan sumber air juga menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi kebakaran lahan. Menurut Yonsep, keberadaan tampungan air sangat membantu petugas ketika melakukan pemadaman.
Ia mencontohkan kebakaran di Sungai Nyamuk yang dinilai dapat menjadi lebih parah apabila tidak terdapat tampungan air di sekitar lokasi.
“Yang di Sungai Kuli, kalau bukan karena ada tampungan air, kemarin itu selesai juga, habis. Pasti habis,” tuturnya.
BPBD berharap masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi ikut melakukan pencegahan sejak awal. Terutama dengan menghindari pembakaran lahan yang berisiko menyebabkan api meluas dan mengancam lahan produktif maupun permukiman warga. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







