benuanta.co.id, TARAKAN – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tarakan Aneka Usaha tengah mempersiapkan digitalisasi sistem parkir tepi jalan. Upaya ini dilakukan dengan menyiapkan kode QRIS yang akan dibekalkan kepada seluruh juru parkir (jukir) resmi.
Plt. Direktur Perumda Tarakan Aneka Usaha, Anthon Joy, menyampaikan saat ini pembuatan QRIS bagi 120 jukir sudah dalam tahap pengerjaan. Nantinya setiap jukir resmi akan dibekali ID Card baru yang memuat identitas di bagian depan, serta QRIS parkir pribadi di bagian belakang.
“Skema pembayaran parkir akan ada dua pilihan. Bisa tetap dengan cara konvensional seperti biasanya, atau menggunakan QRIS bagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan sistem digital,” jelasnya.
Biaya parkir yang dikenakan tidak mengalami perubahan. Untuk roda dua tetap Rp2.000, sedangkan roda empat Rp3.000. Menurutnya, penggunaan QRIS tidak menambah biaya transaksi sepeserpun.
“Kalau bayar Rp2.000, ya tetap Rp2.000. Tidak ada tambahan biaya transaksi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, penggunaan sistem digital ini bertujuan menekan potensi kebocoran setoran parkir. Selama ini, masih ditemukan masyarakat yang tidak menerima karcis resmi setelah melakukan pembayaran, sehingga rawan terjadi penyalahgunaan.
Dengan adanya QRIS, dana yang dibayarkan langsung masuk ke rekening Perumda dan selanjutnya disetor ke Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kendati demikian, penerapan sistem QRIS ini akan dilakukan bertahap. Rencananya, program ini mulai dijalankan pada akhir September 2025.
“Sambil berjalan, kami juga melakukan sosialisasi baik ke jukir maupun masyarakat,” ujarnya.
Selain persoalan teknis, Perumda Aneka Usaha juga menghadapi kendala di lapangan, seperti adanya penolakan dari pemilik usaha di beberapa titik parkir, serta gangguan dari oknum preman yang kerap memalak jukir resmi. Kondisi ini dinilai mengganggu pendapatan daerah maupun kesejahteraan jukir.
Berdasarkan data terakhir, terdapat 116 jukir resmi yang tersebar di 95 titik parkir tepi jalan di Tarakan. Targetnya, jumlah titik tersebut dapat bertambah menjadi 100 titik setiap tahun, meski masih terkendala faktor non teknis di lapangan. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







