AL Pastikan Penggunaan Kapal Induk sesuai Dengan Doktrin TNI

Politik12 views
Jakarta – Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul mengatakan kapal induk Giuseppe Garibaldi atau KRI Gajah Mada akan digunakan sesuai Doktrin Perisai Trisula Nusantara.

Salah satu poin doktrin yang akan diterapkan, yakni penggunaan kapal untuk mendukung operasi yang dilakukan oleh tiga matra TNI. Dengan doktrin tersebut, kapal induk pertama Indonesia itu bisa dipakai sebagai landasan alutsista udara milik TNI AU maupun TNI AD.

“Saat ini juga sedang dilaksanakan giat refreshing take off landing Trimatra khususnya bagi pilot TNI AU dan TNI AD,” kata dia saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Untuk mendukung hal tersebut, Tunggul mengaku beberapa penerbang dari tiga matra TNI susah melakukan latihan berupa simulasi pendaratan di markas Pusat Penerbang AL (Puspenerbal) Juanda, Surabaya.

Kendati demikian, Tunggul tidak menjelaskan secara rinci jenis alutsista udara apa yang dapat mendarat di landasan pacu KRI Gajah Mada.

Baca Juga :  TNI AU Kerahkan Pesawat Angkut Lakukan Modifikasi Cuaca di Kalimantan

Selain itu, Tunggul juga kembali mempertegas tujuan utama TNI AL dalam menggunakan kapal induk. Dia mengatakan TNI tidak akan mengerahkan kapal induk untuk operasi militer ataupun invasi terhadap negara-negara lain.

“Untuk Garibaldi rencana akan dioperasikan berfokus kepada operasi militer selain perang (OMSP) seperti penyaluran bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam,” kata dia.

Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan untuk melibatkan KRI Gajah Mada dalam misi diplomasi antarnegara guna memperkuat hubungan Indonesia dengan negara kawasan.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan TNI AL berupaya secara perlahan menerapkan konsep pertahanan laut Green Water Navy hingga menuju Blue Water Navy.

“Kita harapannya bisa menjadi Green Water Navy dulu sebelum menjadi Blue Water Navy,” kata Ali di dermaga Kolinlamil Jakarta.

Baca Juga :  Prabowo Susuri Karhutla di Kubu Raya, Pastikan Penanganan Optimal

Untuk diketahui, konsep Blue Water Navy merupakan model angkatan laut di mana sebuah negara memiliki kekuatan alat utama sistem senjata (alutsista) laut yang besar dan jumlah armada yang maksimal sehingga memungkinkan untuk menjalani operasi militer ke luar wilayah laut negaranya sendiri.

Model angkatan laut ini biasa digunakan untuk negara yang ingin membawa armada mengarungi samudera untuk melalukan penyerangan atau invasi.

Untuk Green Water Navy adalah istilah untuk angkatan laut yang memiliki kekuatan militer menengah sehingga tidak bisa melakukan operasi besar di luar kawasan laut negaranya.

Umumnya angkatan laut dengan model seperti ini melakukan operasi pertahanan untuk memperkuat pengawasan wilayah laut dalam negeri.

Menurut Ali, untuk menjadi Blue Water Navy dibutuhkan kekuatan armada yang besar sehingga memungkinkan untuk melakukan perjalanan lintas laut.

Baca Juga :  Presiden Minta Ttambahan APD dan Masker ke Wilayah Terdampak Karhutla

Salah satu unsur yang diperlukan untuk menerapkan model Blue Water Navy, yakni memiliki kapal induk.

Kini, TNI AL sedang menunggu kedatangan KRI Gajah Mada buatan galangan Fincantieri, Italia.

Jika kapal tersebut datang, Ali menilai TNI AL mungkin mampu menerapkan konsep Blue Water Navy namun bukan untuk melakukan operasi invasi.

“Kita mungkin bisa menjadi Blue Water Navy, tetapi bukan untuk invasi. Untuk melaksanakan kegiatan diplomasi yang sifatnya goodwillport visit, misalnya operasi militer selain perang (OMSP), bantuan kemanusiaan, dan itu sangat berfungsi dan bermanfaat,” kata Ali.

Kini, lanjut Ali, TNI AL masih fokus untuk memperkuat kekuatan militernya agar bisa menerapkan model pertahanan laut Green Water Navy.

Sumber : Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *