Tarakan – Pada bulan Mei 2022, Provinsi Kalimantan Utara tercatat mengalami inflasi sebesar 0,76% (mtm) atau 4,46% (yoy). Dua kota penyumbang IHK Kaltara yaitu Tarakan dan Tanjung Selor masing-masing tercatat inflasi sebesar 0,76% (mtm) dan 0,77% (mtm). Dari total 90 Kota IHK nasional, Tarakan dan Tanjung Selor masing-masing menduduki peringkat 38 dan 35 inflasi tertinggi.
Inflasi periode Mei 2022 terutama disebabkan oleh inflasi pada kelompok transportasi dan kelompok makanan & minuman seperti tomat dan bayam terkait mobilitas masyarakat dan dinamika suplai dari sentra produksi.
“Naiknya tekanan inflasi pada kelompok transportasi, khususnya tarif angkutan udara, sebagai dampak diperbolehkannya mudik oleh Pemerintah dan arus balik masyarakat pasca Hari Raya Idul Fitri 1443 H. Kondisi tersebut diyakini menyebabkan peningkatan permintaan masyarakat terhadap komoditas angkutan udara yang tercermin dari tingginya mobilitas pada periode tersebut,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara, Tedy Arief Budiman dalam siaran persnya.
Selain peningkatan permintaan domestik, tekanan inflasi pada angkutan udara ini diiringi pula dengan masih terbatasnya jumlah penerbangan serta tingginya harga avtur dunia sebagai dampak dari peningkatan harga minyak dunia yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina.
Selain itu, persyaratan penerbangan yang dipermudah bagi masyarakat yang telah melakukan vaksin dosis ketiga sejalan dengan akselerasi vaksinasi oleh Pemerintah Daerah juga turut meningkatkan permintaan terhadap komoditas angkutan udara. Kondisi tersebut mendorong kelompok transportasi tercatat mengalami inflasi sebesar 1,48% (mtm) atau 11,24% (yoy).
“Sejalan dengan kelompok transportasi, tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, secara umum disebabkan oleh meningkatnya demand masyarakat pada HBKN Idul Fitri 1443 H. Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas seperti tomat dan bayam yang ketersediaannya terbatas akibat panen yang kurang optimal di daerah pemasok disebabkan oleh cuaca yang kurang kondusif. Selain itu, daging ayam ras dan telur ayam ras juga mengalami peningkatan harga yang dipicu oleh masih tingginya harga pakan, ” jelasnya.
Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi bulanan terbesar dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada April 2022 antara lain tomat (0,11%), daging ayam ras (0,07%), bayam (0,07%) dan telur ayam ras (0,06%). Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan terbesar yaitu cabai rawit (-0,12%), tempe (-0,02%), dan wortel (-0,01%). Secara bulanan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi sebesar 1,65% (mtm) atau tercatat inflasi secara tahunan sebesar 5,67% (yoy).
Dalam rangka menjaga tingkat inflasi, Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah dalam wadah TPID akan terus bersinergi dalam melaksanakan program pengendalian harga dalam kerangka 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi dan Komunikasi Efektif), serta menjaga ekspektasi inflasi tahun 2022 yang diyakini masih akan berada di sasaran target inflasi 3,0±1%.
Selain itu, Bank Indonesia dengan berbagai pihak termasuk Pemda juga terus aktif bersinergi melalui berbagai program termasuk penguatan korporatisasi dan kelembagaan, pengembangan kapasitas produksi, maupun perluasan pasar UMKM pangan dikala pandemi. Menyikapi perkembangan Penyakit Kuku dan Mulut (PKM) pada sapi dan kerbau yang merebak belakangan ini, TPID bersama OPD terkait akan melakukan pengawasan langsung terhadap pasokan di lapangan dalam waktu dekat untuk memastikan ketersediaan suplai termasuk menjelang Idul Adha. Selain itu, bentuk koordinasi dan sinergi TPID juga dimungkinkan dalam bentuk inisiasi proaktif termasuk surveilance dan uji lab spesifik dalam memastikan kesehatan ternak, termasuk dari penyakit PKM.
“Pada tahun 2022 inflasi diprakirakan berada pada rentang sasarannya 3,0±1%. Prakiraan ini utamanya disebabkan oleh permintaan domestik yang diprakirakan membaik dan transmisi harga global ke domestik yang berlanjut di tengah ekspektasi inflasi dan nilai tukar yang terjaga. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna menjaga inflasi sesuai kisaran targetnya,” jelasnya.
Koordinasi kebijakan dengan Pemerintah tersebut terutama ditujukan untuk mengantisipasi risiko inflasi komoditas pangan strategis, baik pada kelompok Volatile Food (VF) maupun kelompok inti, dari kemungkinan adanya gangguan pasokan dan distribusi yang berasal baik dari global maupun domestik.
Selain itu, adanya kenaikan harga beberapa komoditas pada kelompok Administered Prices (AP) seperti kenaikan tiket angkutan udara, Bahan Bakar Minyak (BBM), cukai rokok dan PPN juga perlu mendapat perhatian. Kebijakan moneter Bank Indonesia akan tetap konsisten dalam mengelola ekspektasi inflasi sesuai sasaran. Di samping itu, sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat sebagai bagian dari upaya mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
Intermediasi Perbankan
Intermediasi perbankan di Provinsi Kalimantan Utara cukup tinggi yang dicerminakan dari Rasio Kredit dibandingkan dengan Pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) secara lokasi proyek di Provinsi Kaltara yang pada April 2022 tercatat sebesar 91,73%. Hal ini didukung oleh pertumbuhan positif pada pengumpulan Dana Pihak Ketiga (DPK) maupun penyaluran kredit di wilayah provinsi Kalimantan Utara.
Posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) di Provinsi Kaltara pada bulan April 2022 kembali melanjutkan tren pertumbuhan positif yakni sebesar 11,37% (yoy) atau Rp15,09 triliun. Peningkatan likuiditas tersebut terjadi seiring dengan adanya pemberian insentif fiskal berupa BLT minyak goreng, BLT Dana Desa, dan pembayaran THR menyambut HBKN Ramadhan dan Idul Fitri 2022. Peningkatan DPK ini terutama terjadi pada komponen tabungan dan deposito dengan rincian sebagai berikut:
Tabungan dengan pangsa tertinggi sebesar 54,9% dari total DPK, tumbuh positif sebesar 21,96% (yoy), yaitu dari Rp7,02 triliun pada April 2021, menjadi Rp8,28 triliun pada April 2022. Peningkatan tersebut disebabkan oleh pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat oleh pelaku usaha dan Pemerintah menjelang HBKN Idul Fitri 1443 H.
Deposito dengan pangsa 28,0% mengalami pertumbuhan positif sebesar 17,91% (yoy), yaitu dari Rp3,83 triliun pada April 2021 menjadi Rp4,23 triliun pada April 2022. Capaian ini melanjutkan tren positif pertumbuhan dua digit sepanjang tahun 2022 ini. Giro yang memiliki pangsa 17,1% mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 4,29% (yoy), yaitu dari Rp2,70 triliun menjadi Rp2,58 triliun.
Posisi kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan di Provinsi Kaltara pada April 2022 tercatat tumbuh positif 26,86% (yoy), yaitu dari Rp10,91 triliun pada April 2021 menjadi Rp13,84 triliun pada April 2022. Pertumbuhan kredit yang tinggi ini didukung dengan kualitas kredit yang terjaga dengan NPL Gross di level 1,03%, lebih rendah daripada ambang batas aman yaitu 5%. Kredit yang disalurkan pada April 2022 tersebut terutama disalurkan untuk kredit konsumsi dengan pangsa mencapai 36,51% dari total kredit yang disalurkan di Kaltara dan mengalami pertumbuhan 6,33% (yoy).
Secara sektoral Pada April 2022, Lapangan Usaha (LU) Pertanian dan Kehutanan (pangsa 29,01%) tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 117,56% (yoy), terutama didukung oleh kinerja sub sektor perkebunan yang sedang menikmati tren kenaikan harga komoditas CPO. Selain itu, LU Perdagangan Besar dan Eceran dengan pangsa kredit terbesar kedua yaitu 19,55%, kembali melanjutkan pertumbuhan positif sebesar 16,21% (yoy). Sektor tersebut mencatatkan performa yang baik di tengah pemulihan ekonomi yang terus berlanjut di Kaltara sejalan dengan akselerasi vaksinasi dan kemajuan penanganan Covid-19 di Kaltara. Selanjutnya, LU Transportasi, Gudang, dan Komunikasi (pangsa 1,64%) mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 136,9% (yoy) sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat yang disebabka oleh diperbolehkannya mudik Lebaran oleh Pemerintah pasca dilaran selama 2 (dua) tahun terakhir akibat pandemi Covid-19.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit konsumsi dengan pangsa terbesar (36,51%) mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,33% (yoy) atau mencapai Rp5,05 triliun pada April 2022. Perbaikan kredit konsumsi juga sejalan dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang masih menunjukkan area optimis. Peningkatan kredit konsumsi tersebut sejalan dengan naiknya demand masyarakat menyambut HBKN Idul Fitri 1443 H. Kondisi ini juga didukung utamanya oleh berlanjutnya kebijakan dari Pemerintah dan Bank Indonesia dalam bentuk insentif dan stimulus hingga awal tahun 2022. Kebijakan tersebut antara lain pelonggaran uang muka (down payment/DP) kredit/pembiayaan kendaraan bermotor dan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) kredit atau pembiayaan properti serta perpanjangan pemberian insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk mobil baru yang diperpanjang hingga September 2022. Kredit investasi dengan pangsa 31,35% juga kembali mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 82,41% (yoy) atau senilai 4,34 triliun.
Tingginya pertumbuhan pada kredit invetasi di dorong oleh peningkatan kredit investasi pada lapangan usaha pertanian sub sektor perkebunan. Hal ini sejalan dengan harga komoditas global terutama untuk komoditas kelapa sawit yang terus menunjukkan tren peningkatan harga sejak awal tahun 2022. Selanjutnya kredit modal kerja dengan pangsa sebesar 32,14% mengalami pertumbuhan positif sebesar 17,70% (yoy) atau senilai dengan Rp4,45 triliun.
Perkembangan Sistem Pembayaran Bank Indonesia
Pelaksanaan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) melalui layanan Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) yang diselenggarakan oleh KPwBI Prov. Kaltara sepanjang bulan April 2022 telah berlangsung dengan efisien, aman, andal dan lancar. Hal tersebut tercermin dari tingkat ketersediaan (availability) sistem yang mencapai 100% dan tidak terdapat unsettled transaction.
Nilai transaksi BI-RTGS pada bulan April 2022 tercatat sebesar Rp1.431,92 miliar atau mengalami pertumbuhan sebesar 105,58% (yoy). Selanjutnya, volume transaksi RTGS tercatat sebanyak 741 transaksi atau mengalami kenaikan sebesar 25,17% (yoy).
Sementara itu, nilai transaksi transfer dana melalui SKNBI pada bulan April 2022 tercatat mengalami kenaikan sebesar 8,01% (yoy) atau Rp489,81 miliar. Di sisi lain, volume transaksi SKNBI mengalami penurunan sebesar 2,61% (yoy) atau menjadi sebanyak 10.655 transaksi.
Dari perkembangan jumlah merchant QRIS di wilayah Provinsi Kalimantan Utara per April 2022 terdapat sebanyak 31.467 merchant. Jumlah tersebut meningkat sebesar 2.961 merchant jika dibandingkan posisi per 31 Desember 2021 (28.506 merchant) atau tumbuh sebesar 10,39% (ytd).
Selanjutnya pada jumlah pengguna baru QRIS di Provinsi Kalimantan Utara, per April 2022 tercatat terdapat total sebanyak 15.481 pengguna baru QRIS, meningkat sebanyak 9.239 pengguna baru jika dibandingkan 31 Desember 2021 (6.242 pengguna) atau sebesar 148,01% (ytd). Berdasarkan target pencapaian tahun 2022, jumlah pengguna baru Kaltara telah tercapai sebesar 28,00% dari total target sebanyak 33.000 pengguna baru.
Perkembangan Aliran Uang Rupiah
Sepanjang bulan Mei 2022, terdapat arus uang keluar (outflow) dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara sebesar Rp200,58 miliar atau mengalami penurunan sebesar 51,87% (yoy) dibanding Mei 2021. Sementara arus uang masuk (inflow) mencapai Rp271,71 miliar atau turun sebesar 5,19% (yoy) dari Mei 2021. Dengan demikian, pada Mei 2022 KPwBI Prov. Kaltara mengalami net inflow sebesar Rp71,13 miliar.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara secara teratur melakukan dropping dan penarikan uang pada 3 (tiga) Kas Titipan Bank Indonesia (Tanjung Selor, Malinau dan Nunukan) sesuai kebutuhan.(*)
Sumber: Siaran Pers KPwBI Prov.Kaltara







