benuanta.co.id, TARAKAN – Postingan media sosial Facebook Deddy Sitorus alias DS, anggota DPR RI Dapil Kaltara beberapa hari lalu dinilai telah meresahkan. Aliansi Rakyat Kalimantan Utara telah menggunggat DS. Hasbullah, perwakilan aliansi menyatakan keberatan dan telah melaporkan Deddy ke kantor polisi.
“Kami sepakat untuk melakukan hearing. Pertama di kantor Gubernur bertemu dengan bapak pemimpin Kaltara, kemudian kami juga ke Polda membuat pengaduan untuk ditindak secara hukum dan sampai hari ini kami percaya bisa masuk ke ranah hukum,” ungkapnya Senin (25/10) lalu.
Ia menyatakan bahwa aliansi ini terbentuk dan menggugat karena tidak sepaham dengan status Facebook Deddy yang dianggap tak etis. “Kami disini menyampaikan ketidaksepemahaman kami terhadap postingan Deddy Sitorus, menurut kami terkesan tidak etis untuk memposting yang cenderung merendahkan, terkesan menganggap orang Kaltara tamak,” ujarnya.
Menanggapi gugatan warga di Kaltara ini, DS melalui jubirnya Doddy Irvan mengungkapkan, baik Deddy dan Aliansi yang merasa dirugikan sama-sama memiliki hak berpendapat yang dilindungi Undang-undang (UU). Namun, dirinya juga menyampaikan agar masyarakat tidak menyeret arti dari status Deddy ke dalam isu SARA.
“Pada prinsipnya kita tidak masalah, asal tidak ada politisasi unsur SARA, jadi garisnya jelas, di luar itu ya terserah itu hak orang juga untuk menginterpretasinya juga dan juga bang DS tidak menyebut kelompok tertentu, tidak sebut nama orang juga,” jelasnya.
Pria yang akrab di panggil Pai ini juga menjelaskan, seorang anggota DPR RI memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional yang terlibat secara aktif pada pembangunan di Kaltara. Sehingga tidak mungkin seorang Deddy Sitorus berniat merusak perdamaian dan kerukunan untuk masyarakat Kaltara.
“Coba dibayangin orang yang punya niat membangun terus dinilai merusak, itu kan kontradiktif kan, Deddy Sitorus itu bekerja memikirkan kepentingan masyarakat di Senayan itu untuk masyarakat (Kaltara) juga,” terangnya.
Pai mewakili DS berpesan agar masyarakat Kaltara lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah terprovokasi dan di adu domba.
“Masyarakat Kaltara sudah cerdas, sudah melek teknologi dan mereka bisa menilai secara komperhensif apapun yang beredar di media sosial masyarakat jangan mudah diadu domba, masyarakat harus berkepala dingin menghadapi suatu hal,” tutup dia.(*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







