benuanta.co.id, TANJUNG SELOR — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) memastikan pembangunan sektor pariwisata pada 2026 tetap difokuskan pada penguatan destinasi unggulan yang telah memiliki perencanaan matang. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keberlanjutan pengembangan pariwisata di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltara, Njau Anau, mengatakan kondisi anggaran pada 2026 diperkirakan mengalami penurunan. Karena itu, pemerintah daerah harus lebih selektif dalam menentukan program dan kegiatan yang akan dijalankan.
“Prioritas tetap diberikan pada destinasi unggulan yang sudah berkembang dan memiliki perencanaan jelas,” sebutnya, Sabtu (7/3/2026),
Menurut dia, pendekatan tersebut diharapkan membuat pembangunan pariwisata lebih efektif serta memberikan dampak nyata bagi daerah dan masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, tetap menyesuaikan seluruh program dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
Pengembangan pariwisata di Kaltara juga tetap mengacu pada rencana induk pembangunan pariwisata daerah yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam dokumen tersebut, sejumlah wilayah ditetapkan sebagai fokus pengembangan karena memiliki potensi wisata kuat serta program yang telah berjalan.
Beberapa daerah yang menjadi perhatian antara lain Pulau Sebatik, Kabupaten Malinau, Bulungan, Tana Tidung, dan Kota Tarakan. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki daya tarik wisata yang potensial serta didukung oleh berbagai program pengembangan yang telah dirintis dalam beberapa tahun terakhir.
Njau mencontohkan kawasan Sebatik yang telah memiliki sejumlah titik destinasi yang mulai dikembangkan. Sementara itu, Kabupaten Malinau dikenal dengan kawasan Tanah Ulen serta beberapa desa wisata yang dinilai cukup mapan dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Ia menegaskan keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus memaksimalkan pengembangan destinasi yang sudah ada terlebih dahulu. Pengembangan destinasi baru, kata dia, masih memerlukan kajian panjang mulai dari perencanaan hingga kesiapan infrastruktur pendukung.
Karena itu, destinasi baru belum menjadi prioritas utama dalam pembangunan pariwisata pada 2026.
“Kita optimistis, tetapi juga realistis. Fokus kita pada apa yang sudah berjalan agar hasilnya lebih maksimal,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli







