Maraknya ‘Kejahatan’ Berbahasa di Kalangan Anak-anak

benuanta.co.id Tarakan – Kejahatan berbahasa makin marak terjadi di kalangan anak – anak. Padahal, anak usia dini seharusnya mendapatkan edukasi bertutur  yang baik dan benar. Fenomena ini seakan dibiarkan dan hingga kini belum ada penanganan khusus terkait hal tersebut.

Hal ini tentunya menunjukkan degradasi yang mencolok dalam adab dan moral di kalangan generasi muda. Pada dasarnya, kata-kata yang kasar dan vulgar memiliki dampak negatif dalam bermasyarakat, ke depannya.

Faktor yang mempengaruhi maraknya penggunaan kata-kata kasar di kalangan anak muda, biasanya paparan yang luas terhadap konten yang mengandung unsur kasar dan vulgar di media sosial, televisi, dan platform digital lainnya.

Psikolog Kaltara, Fanny Sumanjouw menerangkan dampak gadget pada anak-anak dan remaja merupakan hal serius. Hampir setiap hari kasus gangguan jiwa pada anak ditemukan di Indonesia akibat kecanduan game virtual, hingga menonton konten tidak sesuai umur melalui gadget tersebut.

Baca Juga :  Evaluasi Inspektorat Penerbangan, Bandara Juwata dan Basarnas Teken MoU

“Kecanduan bermain digital pada gawai saat ini mendapat perhatian dunia. Kecanduan nonton konten kekerasan maupun vulgar, tanpa pantauan orang tua sebagai gangguan kesehatan jiwa,” ucap Fanny.

Adapun gangguan jiwa pada anak ditemukan di Indonesia akibat kecanduan game virtual melalui gadget tersebut. Menurutnya, jika hal itu tidak menjadi perhatian khusus maka akan berimbas pada melemahnya generasi penerus dalam mengembangkan bakatnya.

“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum lama ini mengeluarkan International Classification of Disease (ICD) edisi ke-11 yang menyebutkan kecanduan main game, yang masuk sebagai gangguan permainan atau gaming disorder,” ujarnya.

Baca Juga :  Kejari Tarakan Musnahkan Barang Bukti dari 77 Perkara Inkrah

Disarankan kepada pihak orang tua, dapat memantau atau mempertontonkan sesuai usia anak atau pun tidak memperkenalkan gadget. Pemikiran anak dalam usia dini yang belum matang membuat fokusnya mudah teralihkan oleh sesuatu hal yang lebih menarik. Akibatnya, ia sulit menerima hal apapun karena ingatannya telah dipenuhi oleh hal sebelumnya.

Bahwasannya pengajaran konvensional akan mental dan akan sulit menerima materi baru. Dalam artian, materi baru sulit tertangkap oleh kognitifnya. Karena sudah kepenuhan dengan media animasi yang full colour dan lebih menarik daripada membaca buku yang monochrome yang gambarnya hitam putih. Selain itu, langkah selanjutnya dukungan kepada anak dalam penyaluran hobi. Hal tersebut dimaksudkan memperkecil ketertarikan anak dengan pengunaan gadget.

Baca Juga :  Tekan Peredaran Rokok Ilegal, Bea Cukai Tarakan Edukasi ke Masyarakat

“Perbanyak aktivitas di luar rumah yang menarik sesuai dengan hobi dan kesukaannya. untuk membangun keterikatan emosi bersama anak melalui komunikasi aktif dan menemani hari-hari anak, Dengan begitu, kecanduan gadgetnya perlahan akan hilang,” pungkasnya. (*)

Reporter : Rewinda karinata

Ediror: Nicky Saputra

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2701 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *