Jelang Ramadan, Komoditas Daging Ayam di Tarakan Tembus Rp 50 Ribu per Kg

benuanta.co.id, TARAKAN – Selain beras, sejumlah bahan pokok seperti lombok, daging ayam, jenis sayur-mayur turut mengalami kenaikan harga jelang bulan Ramadan 2024.

Salah satu konsumen, Atikah mengatakan, saat ini harga komoditi ayam potong kotor yang sebelumnya dijual Rp 38.000 menjadi Rp 55.000 per kilogram (Kg). Sedangkan untuk komoditi canai dari harga per kilogram Rp 50.000 menjadi Rp 120.000.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2000 votes

“Yang naik setahu saya itu aja. Kalau yang lain masih normal. Tomat juga ada kenaikan, biasanya saya beli Rp 25 ribu itu sudah dapat sekilo. Sekarang jadi Rp 30 ribu,” ungkapnya, Ahad (3/3/2024).

Baca Juga :  Libur Lebaran 2024 Telah Usai, Pj Wali Kota Sidak Pegawai Pemkot di Hari Pertama Kerja

Senada dengan Atikah, Febriyanti juga mengungkapkan hal yang sama. Biasanya, ia membeli ayam potong kotor seharga Rp 37.000, tapi saat ini sudah tembus Rp 50 ribu.

“Biarpun mahal begitu tetap juga kita beli ya karena butuh kan. Takutnya nanti kita kehabisan juga karena pasti semua pada belanja dekat bulan puasa ini. Minggu depan sudah puasa,” ujarnya Febri.

Penjual komoditas lombok lokal, Asman mengungkapkan para pelanggannya pun turut mengeluhkan kenaikan sejumlah harga bahan pokok, namun ia tak khawatir lantaran barang dagangannya merupakan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca Juga :  Pemkot Tarakan Tak Berlakukan WFH bagi ASN

Meski saat ini cabai lokal terbilang lebih mahal dibandingkan cabai dari Sulawesi.

“Saya jualnya yang lokal, mengambil dari Juata. Kalau yang dari Sulawesi itu akses masuknya juga susah. Mau tidak mau memang harus beli kan masyarakat ini,” tukasnya

Selama 7 tahun berjualan ia tak kaget lagi dengan kenaikan harga bahan pokok yang terjadi jelang hari besar seperti bulan puasa lebaran Idul Fitri nanti.

Sementara itu, Koordinator Pasar Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan (DKUMP) Tarakan, Firman mengungkapkan harga ayam yang melonjak lantaran faktor harga pakan ternak yang naik dan tingginya kematian ayam.

“Mereka (pembudidaya) juga panen ayam itu diusia 40 hari. Jadi kecil-kecil. Makanya harganya mahal, tidak sesuai juga dengan panennya diwaktu singkat,” tuturnya.

Baca Juga :  Polres Tarakan Berikan Dispensasi Pengurusan SIM Mati saat Libur Lebaran

Untuk cabai, menurutnya tak melulu harga yang ditawarkan tinggi. Komoditas cabai memiliki harga yang fluktuatif di pasaran. Faktornya beragam, mulai harga dari daerah pemasok seperti Palu dan Makassar sudah terbilang mahal hingga stok yang diambil penjual tak sebanyak yang biasanya.

“Karena dari daerah pemasok itu juga kurang stoknya. Makanya harganya melambung. Kalau lombok lokal juga tidak memenuhi kuota juga, kalau dari kapal itu semuanya dari Sulawesi,” tandasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *