Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat Tunjukkan Tren Kenaikan

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Subsektor tanaman perkebunan rakyat secara umum memiliki indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang lebih tinggi dibanding dengan NTP subsektor lainnya.

Hal ini menggambarkan bahwa peningkatan kesejahteraan petani subsektor ini lebih tinggi dibandingkan subsektor lain dengan perbandingan tahun dasar yang sama.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1940 votes

Kesejahteraan yang dimaksud dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara), Mas’ud Rifai dalam hal ini yakni kemampuan nilai tukar produk hasil pertanian tanaman perkebunan rakyat yang dihasilkan oleh petani untuk mencukupi kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi serta penambahan barang modal usaha pertaniannya.

Baca Juga :  Pasca Hari Raya Idulfitri, Stok Sembako di Nunukan Terpantau Aman

Perkembangan Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) menunjukkan tren kenaikan yang tampak dari NTPR Semester 2 tahun 2019 sebesar 102,75, kemudian menjadi sebesar 115,59 pada Semester 2 tahun 2020 yang dilanjutkan dengan besaran peningkatan tertinggi ada Semester 2 tahun 2021 menjadi sebesar 139,44.

“Peningkatan masih terus berlanjut pada Semester 2 tahun 2022 menjadi sebesar 153,67 hingga nilai tertinggi NTPR dalam 5 tahun terakhir terjadi pada Semester 2 tahun 2023 yakni sebesar 170,65,” jelasnya.

Kondisi NTPR Semester 2 sejalan dengan perkembangan IndeksHarga yang Diterima (It) dan Indeks Harga yang Dibayar (Ib) petani tanaman perkebunan rakyat Semester 2 yang terus mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir.

“Pada Semester 2 tahun 2019, It bernilai 104,87 dengan Ib sebesar 102,07 dan terus mengalami peningkatan hingga nilai tertingginya di Semester 2 tahun 2023 dimana It bernilai 108,86 serta Ib bernilai 185,76,” ungkapnya.

Baca Juga :  Berkat Gubernur Kaltara, Bandara Juwata Tarakan Dapat Extra Flight Arus Balik dari 2 Maskapai

Dengan starting point It dan Ib yang hampir sama pada Semester 2 tahun 2019, terlihat bahwa perkembangan It terjadi lebih cepat dibandingkan perkembangan It sehingga gap di antara keduanya semakin jauh.

“Kondisi ini bermakna positif karena menunjukkan kecenderungan nilai tukar produk hasil pertanian yang diterima oleh petani lebih tinggi dibandingkan nilai pengeluaran kebutuhan konsumsi rumah tangga dan biaya produksi serta penambahan barang modal usaha pertaniannya,” sebutnya.

Perbandingan beberapa indikator Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat menunjukkan bahwa secara year-onyear 2022 terhadap 2021 terjadi peningkatan NTPR sebesar 9,26 persenyang disebabkan oleh peningkatan It sebesar 11,81 persen sedangkan Ib mengalami peningkatan lebih rendah yakni sebesar 2,80 persen.

Komponen Ib yang terdiri dari IKRT dan IBPPBM menunjukkan bahwa secara year-on-year 2022 terhadap 2021 IKRT mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan IBPPBM.

Baca Juga :  Febuari Kunjungan Wisman Meningkat Sebanyak 905 Kunjungan ke Kaltara

Sementara itu, kondisi year-on-year 2023 terhadap 2022 mengalami peningkatan NTPR sebesar 9,95 persen atau lebih tinggi dari peningkatan pada periode sebelumnya.

“Peningkatan ini dipicu oleh peningkatan It yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan Ib, atau dengan kata lain kenaikan harga yang diterima petani dari hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga yang dibayarkan petani untuk konsumsi rumah tangga dan produksi pertaniannya,” katanya.

Namun demikian, komponen Ib menunjukkan bahwa secara year-on-year 2023 terhadap 2022 terjadi peningkatan IKRT yang lebih rendah dibandingkan peningkatan yang terjadi pada IBPPBM. (*) 

Reporter: Ike Julianti

Editor: Nicky Saputra 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *