BPS: 6,68 Ribu Petani Milenial Usia 19–39 Tahun Paling Banyak di Nunukan

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Petani milenial menjadi harapan bagi kelangsungan sektor pertanian Indonesia di tengah tren penurunan jumlah petani Indonesia. Berdasarkan pencacahan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) data petani milenial dapat menjadi salah satu indikator tingkat regenerasi di sektor pertanian serta menunjukkan pemanfaatan teknologi digital, yang diharapkan dapat menciptakan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.

Jumlah petani milenial yang berusia 19–39 tahun, dan petani yang adaptif terhadap teknologi digital. Teknologi digital mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian modern (Alsintan) modern, penggunaan internet, telepon, pintar, teknologi informasi, penggunaan drone, atau penggunaan kecerdasan buatan.

Baca Juga :  Bisnis Sarang Burung Walet Hasilnya Menggiurkan

“Petani milenial hanya mencakup usaha pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan (Undang-undang RI Nomor 19 Tahun 2013)) tercatat sebanyak 28,77 ribu orang,” ucap Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai, Kamis (6/12/2023).

Adapun untuk petani milenial berumur 19–39 tahun sebut Mas’ud sapaannya, baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi digital, ada sebanyak 16,25 ribu orang atau 36,10 persen dari total petani di Kalimantan Utara yang sebanyak 45,02 ribu orang.

Baca Juga :  Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang Menurun 58,27 Persen

“Jumlah petani milenial berumur 19–39 tahun paling banyak berada di Kabupaten Nunukan sebesar 6,68 ribu orang, diikuti Kabupaten Bulungan sebesar 3,46 ribu orang, dan Kota Tarakan sebesar 3,07 ribu orang,” ucapnya.

Sementara itu, petani milenial yang berumur lebih dari 39 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 12,48 ribu orang (43,38 persen) dan petani yang berumur kurang dari 19 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 0,04 ribu orang (0,12 persen).

Tak hanya itu, berdasarkan jenis kelaminnya, petani milenial masih didominasi oleh laki-laki yaitu sebesar 93,00 persen dari total petani milenial.

Baca Juga :  Nelayan di Tarakan Keluhkan Berkurangnya Kuota BBM

“Jika dilihat karakteristiknya, proporsi petani milenial laki-laki yang berusia 19–39 tahun (baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi) lebih tinggi dibanding petani milenial perempuan,” sebutnya.

Terbukti terdapat 58,00 persen petani milenial laki-laki berusia 19–39 tahun diantara keseluruhan petani milenial laki-laki, sementara hanya terdapat 45,00 persen petani milenial perempuan berusia 19–39 tahun diantara total petani milenial perempuan.(*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *