Merosotnya Harga Ayam Potong Dipengaruhi Persaingan antar Perusahaan?

benuanta.co.id, Tarakan – Potensi merosotnya harga ayam potong lokal terancam dengan kehadiran ayam beku yang banyak terdapat di swalayan – swalayan di Kota Tarakan. Mengapa hal itu bisa terjadi, apakah ada persaingan harga dari para perusahaan ayam sehingga menyebabkan sering terjadi anjloknya harga ayam potong?

Merespon hal tersebut Kepala Dinas Peternakan, Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disnaktan) Tarakan, Elang Buana menjelaskan pihaknya telah melakukan pembatasan terhadap permintaan ayam beku.

Kami sudah menganalisa, berapa produksinya berapa kebutuhannya. Adanya ayam beku memang beberapa rekomendasi permintaan itu kita batasi misalkan tadinya minta 30 ton kita batasi jadi 10 ton, dan yang beredar sekarang ini paling hanya 10 persen sampai 15 persen.

Elang menerangkan ketersediaan ayam beku yang beredar di Tarakan digunakan untuk stok ayam yang akan dikirim ke beberapa kabupaten/kota di Kaltara, telebih menjelang hari raya Idul Fitri. Hal ini juga lebih dikhususkan ke daerah yang mempunyai harga ayam tinggi, akibat minimnya ketersediaan.

Baca Juga :  TPID Kaltara Berhasil Menjaga Inflasi Tepat Sasaran 

“Karena memang ada penggunaan tertentu untuk stok ayam beku apalagi jelang hari raya, terutama untuk kabupaten kota lain misalnya di Nunukan, Malinau, dan KTT. Ini yang banyak ambil dari Kota Tarakan dan serta dari perusahaan industri lain. Berdasarkan beberapa pertemuan kita harga ayam potong di Kaltara khususnya Nunukan itu termahal di Indonesia,” jelasnya.

Elang menilai stok ayam beku yang tersedia di Tarakan sendiri sangat sedikit, dan bukan indikator utama dalam persaingan harga ayam potong,

“Untuk ketersedian Kota Tarakan sendiri itu sangat sedikit, bahkan bisa di bawah 10 persen,” imbuhnya.

Baca Juga :  Khawatir Beras Dioplos, DKUKMPP Nunukan Turun ke Sebatik

Berdasarkan pantauan yang Disnaktan lakukan kematian ternak tiap masa panen menurun jadi 3 persen dari yang sebelumnya 10 persen. Sementara itu terjadi juga peningkatan dalam pertumbuhan ayam lokal yang mencapai 1,8 kg lebih sebelum 30 hari.

“Artinya sistem pemeliharaan ternak Tarakan sendiri itu membaik,” jelas Elang.

Elang juga menilai merosotnya harga ayam lokal sendiri banyak disebabkan dari masalah akses, dan kurangnya kepatuhan perusahaan ayam mengenai kuota stok ayam yang telah dianjurkan, sehingga terjadi surplus stok.

“Ya itu ada masalah akses juga tapi tidak banyak. Keduanya ini masalah pemeliharaan, dan pemenuhan kuota stok ayam dari kita kentetuan 350 ribu ekor, tapi dari perusahaannya selalu berlebih. Karena berdasarkan pantauan dulu, mereka (perusahaan ayam) selalu melebih kuota yang telah ditetapkan, jadi perusahaan bukan peternak sebenarnya,” terang elang.

Baca Juga :  Konstruksi, Perdagangan dan Industri Penyumbang Pertumbuhan Ekonomi Kaltara

Disnaktan juga menduga merosotnya harga ayam lokal lebih banyak pada kecenderungan persaingan perusahaan ayam. Elang kemudian juga menjelaskan, pihak Disnaktan akan memberikan sanksi tegas bagi perusahaan ayam yang tidak taat administrasi.

“Dan kita tau kemungkinan perusahaan saling saing, tapi mudahan tidak seperti itu walaupun banyak kencederungan seperti itu terjadi. Untuk hal seperti melebihkan kuota dari yang telah kita tentukan, perusahaan seperti ini akan kita lakukan teguran dan peringatan,” pungkasnya. (*)

Reporter: Edo Asrianur

Editor: Nicky Saputra

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1906 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *