Harga Bahan Pokok di Sulsel Mengalami Kenaikan Jelang Bulan Suci Ramadan

benuanta.co.id, Makassar – Sejumlah harga bahan pokok di Makassar, Sulawesi Selatan mengalami lonjakan menjelang bulan suci Ramadan 1444 Hijriah.

Di mana tren harga kebutuhan pokok di Kota Makassar saat ini minyak goreng curah naik dari Rp15.800 per liter menjadi Rp15.900. Begitu pun minyak goreng kemasan premium dari Rp19.150 menjadi Rp19.450 per liter.

Kemudian harga telur juga naik dari Rp27.600 menjadi Rp28.100 per kilogram. Kemudian, cabai merah besar dari Rp37.650 menjadi Rp38.150 per kilogram. Lalu, cabai rawit merah dari Rp55.750 menjadi Rp56.700 per kilogram.

Bawang Bombay dari Rp26.550 menjadi Rp27.250 per kilogram. Kemudian harga daging naik dari Rp121.500 menjadi Rp122.000 per kilogram. Begitu pula dengan harga daging ayam dari Rp26.950 menjadi Rp28.450 per kilogram.

Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Andi Arwin Azis mengatakan, pengendalian harga maupun pasokan di pasaran perlu kolaborasi semua pihak.

“Dibutuhkan kerjasama yang kuat. Ada beberapa bahan pokok yang cenderung naik harganya, dan ada yang stabil. Itu membuktikan bahwa setelah ini kita harus kerja keras lagi,” ujar Arwin setelah melalui peninjauan harga di sejumlah pasar di Makassar sehari yang lalu.

Arwin menyebut, sejumlah langkah telah disiapkan pemerintah jika terjadi kelangkaan pasokan maupun lonjakan harga. Di antaranya operasi pasar.

“Memang seperti ini dinamikanya jelang Ramadan. Kenaikan harga masih sangat wajar dan sifatnya fluktuatif. Biasanya hari ini naik, besok turun karena pasokan ada lagi,” tukasnya.

Sementara Ketua Komisi B DPRD Sulsel, Firmina Tallulembang mengatakan, kenaikan harga cukup lumrah ketika memasuki Ramadan maupun Idul Fitri.

” Paling tidak, jauh hari sebelum Ramadan atau Lebaran kami bisa tahu kondisi harga di lapangan,” kata Legislator dari fraksi Gerindra itu.

Terpisah Pengamat Ekonomi, Syarkawi Rauf menilai, beberapa faktor yang kemungkinan menjadi faktor terjadinya kenaikan harga sembako. Itu dipengaruhi tingginya permintaan ketika bulan ramadan. Sehingga berakibat pada faktor persediaan yang terbatas dan memicu kenaikan harga.

“Selain itu mungkin karena musim yang mempengaruhi terutama di komoditas pertanian. Misalnya saat musim hujan produksi sayuran dan buah dapat terganggu. Dengan demikian kita dapat menghindari kenaikan harga yang tiba-tiba naik seiring dengan permintaan yang tinggi di bulan Ramadan,” imbuhnya.(*)

Reporter: Akbar

Editor: Ramli

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2115 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *