Sepanjang Tahun 2022 Ada 42 Desa Wisata di Kaltara 

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Menyandang sebagai provinsi paling bungsu, Provinisi Kalimantan Utara (Kaltara) berhasil mengemas keanekaragaman budaya dan wisata yang mampu memikat wisatawan mancanegara.

Menurut Analis Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kaltara, La Ode Deny Ekasaputra menerangkan pada tahun 2022 lalu sebanyak 42 desa wisata telah tercatat di Dinas Pariwisata Kaltara.

“Untuk data 2023 terbaru ini belum ada,” ujarnya Jumat (27/1/2023).

Lebih lanjut, kata La Ode, mayoritas desa wisata ini ada di Kabupaten Nunukan.

“Mayoritas di Kabupaten Nunukan sebanyak 19 desa wisata, Malinau ada 6, Bulungan 5, Tarakan 4 Kampung Wisata karena lingkupnya kota, KTT ada 5 desa wisata,” bebernya.

Baca Juga :  Program DPM Dibuka untuk Pekerja Pelaut di Bulungan, Ini Persyaratannya

Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan saat ini Dinas Pariwisata Kaltara juga sedikit terkendala pada Surat Keputusan (SK) penetapan desa wisata.

“Ada desa wisata ini SK penetapan desa wisatanya ditetapkan oleh pemerintah desa. Padahal harapan kita ingin penetapannya dari Bupati. Karena kalau kepala desanya yang menetapkan masa mereka merubah namanya sendiri menjadi desa wisata itu tidak mungkin. Kalau dari Bupati lingkup keputusannya lebih tinggi,” jelasnya.

Baca Juga :  RSUD JSK Bakal Gelar Forum Konsultasi Publik

Sebagai informasi, diungkapkannya tahun lalu Desa Wisata Pulau Sapi di Kabupaten Malinau mendapat penghargaan 50 besar pada ajang Anugerah Desa Wisata (Adwi).

“Jadi tiap tahun ada. Kemarin di tahun 2022 kebetulan Desa Wisata Pulau Sapi masuk 50 besar. Jadi kita patut berbangga,” terangnya.

Lalu indikator penilaian agar dapat predikat desa wisata yakni memiliki potensi budaya dan alam yang bisa dikembangkan.

“Tapi kalau desa wisata yang buatan artinya mereka harus membuat lagi. Apa sih daya tarik di sini. Mereka masih memikirkan jadi hal itu kita pertimbangkan. Karena pasti akan berhubungan dengan anggaran,” bebernya.

Baca Juga :  Disdukcapil Kaltara Tahun Ini akan Gelar Isbat Nikah

Ia menegaskan berbeda dengan desa wisata yang sudah punya keanekaragaman alam dan budaya mudah dikembangkannya.

“Artinya tinggal bagaimana lagi mereka untuk mengemas daya tarik alam tersebut. Kalau misalnya ada air terjun, ada wisata bahari seperti laut, ada Gasebo dan sarana prasarana terpenuhi mudah dikembangkannya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *