Perubahan Iklim Tak Menentu, BPBD Konsepkan Penanganan Bencana

benuanta.co.id, TARAKAN – Cuaca di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) terpantau cukup mengkhawatirkan. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG Kota Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi melalui rilis singkatnya.

Terdapat sirkulasi siklonik di Selat Makassar bagian Selatan yang membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di Kalimantan Utara.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2074 votes

“Hal ini dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan khususnya di tanggal 9 hingga 11 Oktober 2022,” paparnya, Selasa (11/10/2022).

Baca Juga :  FKUB Muda Tolak Penyebaran Hoaks dan Politik Uang

Kondisi ini menyebabkan kondisi cuaca pada periode tersebut berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.

Tak hanya unsur BMKG, mitigasi bencana juga dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan. Pihaknya juga turut mengundang BMKG Tarakan hingga Basarnas untuk mitigasi bencana di tengah cuaca buruk ini.

“Kita samakan persepsi kalau ada terjadi bencana. Selama ini di masing-masing OPD itu ada standar rescue nya untuk menangani bencana, dengan adanya ini akan terbentuk tim serta standar operasional prosedur yang baku,” ucapnya Kepala BPBD Tarakan, Yonsep saat dikonfirmasi.

Baca Juga :  Pemkot Tarakan Bakal Tinjau Kondisi dan Fasilitas Pantai Ratu Intan

Ia menerangkan potensi bencana yang kerap kali terjadi adalah gempa dan tsunami. Tak dipungkiri hal buruk ini bisa saja menimpa wilayah Kaltara.

“2010 dan 2015 terakhir gempa hebat, dampaknya memang itu. Kita juga ada informasi dari BMKG kan ada patahan lempeng juga, ini sangat diwaspadai. Bukan menakuti kita seperti statement pak Jokowi berteman dengan bencana,” terang Yonsep.

Baca Juga :  Pemkot Tarakan Bakal Ikut Kelola Wisata Rumah Adat Baloy Mayo

Menurutnya, SOP menyoal mitigasi bencana ini harus segera dibuat di tengah perubahan iklim yang begitu cepat.

Disinggung soal simulasi mitigasi bencana ini pihaknya mengaku belum dapat bergerak terlalu jauh, mengingat penganggaran yang tidak sedikit.

“Bukan hanya gempa bumi, dan lainnya itu kita akan bicarakan untuk dibuat dalam satu persepsi. Kalau terjadi apa-apa kita sudah punya konsep sehingga bisa kita sampaikan ke masyarakat,” tandasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *