Lokakarya, Bupati: Budaya Punan Batu Benau Sajau Harus Dilestarikan

benuanta.co.id, BULUNGAN – Keberadaan Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Kabupaten Bulungan harus tetap dilestarikan, salah satunya kelompok masyarakat Punan Batu Benau Sajau. Hal itu disampaikan Panitia Masyarakat Hukum Adat (PMHA) Pemerintah Kabupaten Bulungan dalam pagelaran lokakarya ekspos hasil penelitian kelompok masyarakat Punan Batu Benau Sajau.

Bupati Bulungan, Syarwani mengatakan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dapat maju. Namun identitas sebagai masyarakat yang mempunyai budaya seperti MHA Punan Batu Benau Sajau ini harus dilestarikan.

Baca Juga :  Dua Madrasah di Bulungan Jadi Percontohan Keamanan Pangan 2026

“Keberadaan masyarakat adat harus dilestarikan untuk mempertahankan seni budaya dan adat yang ada,” papar Syarwani kepada benuanta.co.id, Rabu 31 Agustus 2022.

Kata dia, lokakarya sebagai penguatan hasil  verifikasi dokumen dan lapangan yang telah dilakukan Panitia MHA atas permohonan kelompok masyarakat Punan Batu Benau Sajau.

Syarwani menuturkan, keberadaan masyarakat adat di wilayah bulungan sangat luar biasa sehingga pemerintah daerah berkewajiban mempertahankan kelestariannya.

“Tentunya kami dari pemerintah daerah membuka diri kepada semua pihak, sebagai mitra strategis, mari kita berkolaborasi dan bersinergi dalam upaya memastikan perlindungan terhadap masyarakat adat yang ada di Bulungan,” tuturnya.

Baca Juga :  Relawan Dapur MBG di Bulungan Bekerja Rata-rata 8 Jam per Hari

MHA di Bulungan pun kini mendapatkan tempat, terlebih dengan hadirnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 12 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan, Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.

Syarwani memaparkan, dalam lokakarya itu terkait kebijakan Kabupaten Bulungan tentang perlindungan MHA, penyampaian hasil penelitian antropologi tentang keunikan budaya dan bahasa orang Punan Batu oleh Prof J Stephen Lansing dari Santa Fe Institue Amerika Serikat.

Baca Juga :  Gempa M 3,8 Guncang Bulungan, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Lokal

Kemudian penyampaian hasil penelitian tentang persebaran dan perpindahan populasi Punan Batu oleh Dr Guy S Jacobs dari Departemen Arkeologi, Universitas Cambridge Inggris. Lalu penyampaian hasil penelitian tentang genetika populasi Punan Batu oleh Dr Pradiptajati Kusuma dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, Indonesia serta paparan Ketahanan Pangan Masyarakat Adat oleh Ahmad Arif Penulis Sains KOMPAS. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Matthew Gregori Nusa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *