Menangguk Seruyuk di Sungai Kayan, Warisan Leluhur Terus Dilestarikan

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Bagi sebagian masyarakat Dayak di Kabupaten Bulungan, sungai memiliki arti lebih dari sekadar sumber air atau jalur transportasi. Sungai juga menjadi ruang hidup yang melahirkan berbagai tradisi turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi menangguk seruyuk, cara menangkap ikan menggunakan tangguk sederhana yang masih dipertahankan hingga kini.

Di beberapa aliran sungai di wilayah Bulungan, sungai Kayan, aktivitas menangguk masih kerap dijumpai. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada saat suasana sungai masih tenang dan ikan lebih aktif bergerak.

Dengan membawa tangguk berbahan bambu dan jaring, para penangguk berjalan menyusuri tepian sungai. Mereka dengan sabar menunggu momen yang tepat untuk mengayunkan alat tangguk ke dalam air.

Roy, salah seorang penangguk seruyuk yang ditemui di tepi sungai, mengatakan tradisi ini sudah dilakukan masyarakat Dayak sejak lama dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

“Kalau di Dayak sendiri memang dari dulu sudah ada tradisi menangguk ini. Kami hanya meneruskan saja,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Baca Juga :  Bulungan Siapkan Cetak Sawah Baru 1.600 Ha pada 2026

Menurut Roy, waktu terbaik untuk menangguk biasanya dimulai sekitar pukul dua hingga menjelang magrib. Pada waktu tersebut ikan-ikan di sungai cenderung lebih aktif.

“Biasanya mulai jam dua sampai jam lima,” katanya.

Namun keberhasilan mendapatkan ikan tidak hanya ditentukan oleh waktu. Kondisi arus sungai serta fase bulan juga sangat memengaruhi hasil tangkapan.

“Tergantung juga dari kondisi sungai. Kalau bulan besar biasanya ikan lebih banyak berkumpul,” jelas Roy.

Saat kondisi sungai sedang baik, hasil tangkapan bisa cukup melimpah. Dalam satu hari, para penangguk bahkan dapat memperoleh hingga puluhan kilogram ikan.

“Kalau lagi bagus bisa sampai 20 kilo sehari, terutama saat air sedang pas,” ungkapnya.

Meski demikian, hasil tangkapan tidak selalu sebanyak itu. Ada kalanya para penangguk hanya mendapatkan sedikit ikan, tergantung kondisi alam pada saat itu.

Ikan yang diperoleh pun tidak seluruhnya dijual. Sebagian dibawa pulang untuk kebutuhan keluarga, sementara sisanya dijual atau dibagikan kepada kerabat dan tetangga.

Baca Juga :  DP3AP2KB Bulungan Catat 2 Ribu Lebih Anak Tidak Sekolah

“Kadang dijual, kadang juga dibagi sama keluarga atau tetangga,” tambah Roy.

Saat ini, harga ikan seruyuk di pasaran berkisar sekitar Rp15 ribu per kilogram.

Penangguk lainnya, Urim, menjelaskan bahwa menangguk ikan membutuhkan teknik khusus agar tangkapan bisa maksimal. Teknik tersebut dikenal dengan istilah “sayung nanggup”, yaitu cara mengayunkan tangguk agar ikan dapat masuk ke dalam jaring.

“Cara sayung nanggup itu ada tekniknya sendiri,” ujarnya.

Teknik tersebut umumnya dipelajari secara turun-temurun. Banyak anak-anak yang sejak kecil sudah terbiasa melihat orang tua mereka menangguk di sungai.

Selain teknik, alat tangguk yang digunakan juga dibuat secara mandiri oleh para penangguk. Kerangkanya berasal dari bambu yang dirakit, kemudian dipasangi jaring sebagai penangkap ikan.

“Alatnya kami buat sendiri dari bambu,” kata Urim sambil menunjukkan tangguk miliknya.

Biaya pembuatan alat tersebut tidak memiliki standar tertentu karena bergantung pada ukuran serta bahan yang digunakan.

Baca Juga :  Relawan Dapur MBG di Bulungan Bekerja Rata-rata 8 Jam per Hari

“Tergantung mau buat besar atau kecil,” jelasnya.

Bagi masyarakat Dayak di Bulungan, tradisi menangguk seruyuk bukan hanya soal mencari ikan. Cara ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam secara sederhana tanpa merusak lingkungan.

Dengan alat tradisional dan teknik yang tidak berlebihan, keseimbangan ekosistem sungai tetap terjaga. Ikan di sungai pun tidak ditangkap secara masif seperti menggunakan alat modern.

Meski perkembangan zaman terus berjalan, sebagian masyarakat masih memilih mempertahankan tradisi ini. Selain sudah menjadi kebiasaan sejak lama, menangguk juga menjadi cara menjaga hubungan manusia dengan alam.

Bagi Roy dan Urim, tradisi menangguk seruyuk adalah bagian dari warisan leluhur yang harus terus dijaga agar tidak hilang oleh perubahan zaman.

“Ini memang sudah dari dulu, jadi kami teruskan saja,” pungkas Roy. (*)

Reporter: Alvianita
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *