TARAKAN – Vaksin AstraZeneca sering dituding sebagai vaksin haram oleh sebagian masyarakat Indonesia, pasalnya banyak masyarakat yang menyebut vaksin tersebut mengandung unsur dari hewan babi.
Untuk diketahui, vaksin AstraZeneca secara ilmiah disebut sebagai AZD1222 atau ChAdOx1 nCoV-19 dan merupakan sebuah vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford serta AstraZeneca yang diberikan lewat suntikan intraotot.
Disebutkan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara, dr. Franky Sientoro, vaksin AstraZeneca merupakan jenis vaksin kedua yang masuk ke tanah air.
Meskipun selama ini Indonesia menggunakan vaksin jenis Sinovac, tetapi jatah vaksin dari Sinovac masih dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia, oleh karena itu pasokan vaksin AstraZeneca juga diperlukan.
“Vaksin AstraZeneca sudah masuk di Indonesia sejak awal Maret 2021, dan sudah disuntikan ke masyarakat Indonesia. Namun, dengan total 11 juta dosis, banyak masyarakat yang meyakini vaksin ini non halal,” kata Franky.
Franky menjelaskan, vaksin AstraZeneca berbeda dari vaksin Sinovac, karena vaksin atrazeneca adalah vaksin ribonucleat acid (RNA) menggunakan teknologi yang lebih canggih dari vaksin Sinovac.
“Mengenai halal dan non halal, sudah dipastikan bahwa vaksin AstraZeneca halal, meskipun ada beberapa vaksin yang dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan protein dari hewan non halal agar tetap stabil,” pungkasnya.
“Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur juga sudah memastikan vaksin Astrazeneca halal, dan sudah divaksin menggunakan vaksin jenis AstraZeneca,” tambahnya.
Selain itu, terdapat efek samping yang ditemukan kepada pemakai vaksin AstraZeneca, yaitu pembekuan darah ringan beberapa saat setelah divaksin.
“Menurut evaluasi beberapa negara yang sudah vaksin Astrazeneca angka efek samping lebih tinggi, karena ada proses pembekuan darah,” sebutnya.
Tingkat keefektifan astrazeneca lebih dari 90 persen, dalam beberapa penelitian, penggunaan vaksin astrazeneca memang menyebabkan pembekuan darah, namun tidak pernah mengakibatkan kematian.
“Tapi penduduk kita secara nasional, angka kejadian pembekuan darah lebih tinggi daripada pembekuan darah ringan akibat vaksin AstraZeneca. Kalau tidak salah hanya ditemukan 20 dari 10 ribu orang yang mengalami pembekuan darah,” tuturnya.
Lalu, vaksin AstraZeneca juga memiliki dua masa suntikan, namun berbeda dengan sinovac yang berdurasi 2 minggu, vaksin astrazeneca memerlukan waktu 2 hingga 3 bulan untuk vaksin kedua.
“Di Kaltara belum mendapatkan jatah vaksin AstraZeneca, hanya 5 provinsi, diantaranya adalah DKI Jakarta, NTT, Jatim dan sekitarny, hanya vaksin Sinovac yang masuk di Kaltara,” tutupnya.(*)
Reporter : Matthew Gregori Nusa
Editor : Ramli







