Naiknya Harga Emas dan Cabai Rawit Picu Inflasi di Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Setelah pada Januari 2026 mengalami deflasi, Kota Tarakan berbalik mencatat inflasi pada Februari 2026.

Bertepatan dengan Ramadan 1447 Hijriah, inflasi month to month (m-to-m) tercatat sebesar 0,58 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Umar Riyadi menjelaskan, kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor dominan pendorong inflasi bulanan.

“Pada Februari 2026 Kota Tarakan mengalami inflasi month to month sebesar 0,58 persen. Di mana emas perhiasan dominan memberikan andil hingga sebesar 0,28 persen, bersama cabai rawit dan daging ayam ras,” sebutnya.

Selain emas perhiasan (0,2801 persen), komoditas lain yang memberi andil inflasi antara lain cabai rawit (0,1801 persen) dan daging ayam ras (0,0925 persen).

Sejumlah bahan pangan seperti ikan bawal, telur ayam ras, tomat, kangkung, dan kacang panjang juga turut menyumbang kenaikan. Bahkan angkutan udara dan kue kering berminyak ikut memberikan tekanan inflasi pada Februari.

Baca Juga :  Wow! 99 Personel Polres Tarakan Tes Urine, Begini Hasilnya

Dengan capaian tersebut, inflasi year to date (y-to-d) Tarakan tercatat 0,44 persen, sedangkan inflasi year on year (y-on-y) mencapai 5,00 persen. Ia menjelaskan, angka inflasi tahunan tersebut berpotensi bertahan apabila pola pergerakan harga mengikuti tren tahun sebelumnya.

“Mengacu besaran inflasi year on year, dapat dimaknai jika pola di sisa bulan 2026 sama dengan tahun 2025, maka inflasi sepanjang tahun 2026 diperkirakan mencapai 5,00 persen,” jelasnya.

Inflasi tahunan 5,00 persen tersebut berada di luar rentang target inflasi nasional sebesar 2,5 persen kurang lebih 1 persen. Kondisi ini dipengaruhi fenomena low base effect.

Umar menerangkan, pada Januari dan Februari 2025 terdapat kebijakan diskon tarif listrik yang menyebabkan deflasi cukup dalam. Pada Januari 2025, tarif listrik menyumbang deflasi sebesar 1,87 persen dan Februari 2025 sebesar 0,64 persen.

Baca Juga :  9 Dapur SPPG di Tarakan Belum Beroperasi

“Hilangnya andil deflasi yang dalam pada Januari–Februari 2025, sementara efek normalisasi tarif listrik pasca diskon masih tercermin dalam perhitungan tahunan, menyebabkan inflasi year on year Februari 2026 berada di luar range,” tegasnya.

Secara kelompok pengeluaran, pada Februari 2026:
• Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya menyumbang inflasi m-to-m sebesar 0,29 persen.
• Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,27 persen.
• Kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,02 persen.
• Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, Kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya justru memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Baca Juga :  SPPG Tarakan Akan Siapkan Layanan Pengaduan MBG di Setiap Dapur

Adapun 10 komoditas dominan penyumbang deflasi m-to-m Februari 2026 antara lain ikan layang/benggol, bawang merah, ikan bandeng, sawi hijau, bensin, sabun detergen bubuk, ikan mujair, buku pelajaran SD, udang basah, dan ikan senangin.

Pada periode yang sama, inflasi Provinsi Kalimantan Utara tercatat m-to-m 0,47 persen, y-to-d 0,57 persen, dan y-on-y 4,75 persen. Sementara nasional mencatat inflasi m-to-m 0,68 persen, y-to-d 0,53 persen, dan y-on-y 4,76 persen.

Secara bulanan, inflasi Tarakan (0,58 persen) lebih tinggi dibanding provinsi (0,47 persen), namun masih di bawah nasional (0,68 persen). Sedangkan secara tahunan, inflasi Tarakan (5,00 persen) lebih tinggi dibanding provinsi maupun nasional. (*)

Reporter: Sunny Celine T

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *