benuanta.co.id, TARAKAN – Keluhan pedagang ayam lokal terkait membanjirnya daging ayam beku asal Surabaya di awal Ramadan mendapat perhatian dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi turunnya harga ayam lokal di pasaran.
Kepala DKPP Kota Tarakan, Edy Suriansyah, menjelaskan pengaturan jumlah masuknya daging ayam beku sebenarnya bukan kewenangan pemerintah daerah, melainkan telah diatur oleh pemerintah pusat melalui mekanisme perizinan distribusi.
“Ketentuannya diatur dari pusat. Setiap tahun kami sudah beberapa kali rapat membahas hal ini. Ada kewenangan khusus yang mengatur tata niaga distribusi sekaligus pengendalian penyakit,” ujarnya.
Ia menerangkan, setiap distributor atau pelaku usaha yang ingin mendatangkan produk unggas beku ke Kalimantan Utara wajib mengantongi izin melalui sistem aplikasi pengawasan milik pemerintah pusat yang dikelola di tingkat provinsi.
Melalui sistem tersebut, jumlah produk hewan yang masuk ke wilayah Kalimantan Utara telah disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Selain itu, aspek kesehatan dan keamanan pangan juga menjadi perhatian utama.
“Ayam beku yang beredar harus memenuhi syarat seperti Nomor Kontrol Veteriner (NKV), higienis, dan ketentuan kesehatan dari pusat,” jelasnya.
Namun demikian, DKPP melihat adanya indikasi perubahan pola konsumsi masyarakat dari ayam segar lokal menuju ayam beku. Salah satu faktor yang memengaruhi adalah perbedaan harga yang relatif lebih murah pada produk ayam beku.
Menurut Edy, kondisi ini juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha lokal agar mampu memenuhi standar keamanan pangan yang sama, termasuk kepemilikan NKV, sehingga daya saing produk ayam segar dapat meningkat di mata konsumen.
“Kami juga sudah menyampaikan kepada pelaku usaha lokal agar bersama-sama menerapkan standar tersebut, supaya masyarakat memiliki kepercayaan yang sama terhadap produk lokal,” katanya.
Sementara itu, data distribusi yang tercatat di Tarakan kerap menimbulkan persepsi terjadi banjir pasokan. Padahal, sebagian besar stok yang masuk tidak seluruhnya diperuntukkan bagi konsumsi masyarakat Tarakan.
Ia mengungkapkan, daging ayam beku yang tercatat masuk melalui Tarakan juga didistribusikan kembali ke sejumlah wilayah hinterland seperti Nunukan, Malinau hingga kebutuhan perusahaan di Kalimantan Utara.
“Data masuknya memang terbaca Tarakan, misalnya 100 ton. Tapi sebenarnya itu juga untuk redistribusi ke daerah lain, bukan hanya konsumsi Tarakan,” terangnya.
Hal tersebut menyebabkan stok terlihat melimpah di data karantina, meski secara riil telah tersebar ke beberapa daerah.
Kendati demikian, ia memastikan ketersediaan stok pangan di Tarakan tetap aman. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan koordinasi dengan lembaga vertikal guna menjaga stabilitas pasokan dan harga menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Kami bersama dinas terkait terus membahu-membahu sesuai arahan pemerintah pusat agar kebutuhan masyarakat menjelang Idulfitri tetap terpenuhi,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine E
Editor: Ramli







