benuanta.co.id, TARAKAN – Memasuki musim kemanarau, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum temukan titik hotspot atau titik panas di Kalimantan Utara (Kaltara).
Berdasarkan data BMKG musim kemarau diprediksi terjadi lebih awal dari biasanya yaitu mulai bulan April hingga Mei dan mencapai puncak pada bulan Agustus 2025 mendatang.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi menuturkan, meskipun Kaltara merupakan wilayah yang masuk kategori hujan sepanjang tahun, namun terdapat beberapa wilayah yang juga mengalami kemarau.
“Wilayah di Kalimantan Utara yang mengalami kemarau, pertama Pulau Nunukan, kemudian Pulau Sebatik, dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Tanjung Palas Timur. Itu daerah-daerah di wilayah Kalimantan Utara yang dalam beberapa tahun terakhir itu memang mengalami kemarau,” ujarnya, Senin (5/5/2025).
Kendati demikian, kemarau yang terjadi di tiga wilayah tersebut durasinya tidak sama dengan wilayah lainnya. Khilmi menjelaskan, untuk wilayah Tanjung Palas Timur diperkirakan akan mengalami kemarau kurang lebih 2,5 bulan. Kemudian untuk di Pulau Nunukan, puncak awal kemarau sudah lewat yaitu pada Maret dasarian 1 dan Pulau Sebatik berada di bulan April. Pulau Nunukan dan Sebatik memiliki durasi kemarau yang sama yaitu 1,5 bulan.
Disinggung mengenai hotspot, ia menjelaskan berdasarkan pantauan saat ini tanda-tanda adanya titik panas atau hotspot di wilayah Kaltara masih nihil. Ia berharap keadaan ini dapat terus bertahan. Pada kondisi ini level kekeringan di Kaltara masih tergolong aman yaitu berada di zona biru.
“Artinya level kekeringannya, kemudahan terbakar ini masih dalam level yang aman. Kecuali nanti sudah mulai kuning atau merah, level kemudahan terbakarnya ini kategorinya menengah atau tinggi itu mudah sekali terbakar. Kalau sudah seperti itu, mudah sekali muncul hotspot,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







