benuanta.co.id, TARAKAN – Sebanyak 224 anak di Kota Tarakan tercatat putus sekolah. Jumlah tersebut terungkap setelah Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan melakukan pendataan lewat Sistem Informasi Pendataan dan Pembelajaran (SIAPLAH).
Pendataan ini dilakukan guna menangani anak putus sekolah melalui strategi peningkatan aksesibilitas pelayanan pendidikan non formal yang maju, akuntabel, transparan dan partisipatif.
“Dari 4.312 anak putus sekolah tercatat di Kemendikbudristek, baru didapati sebanyak 224 anak putus sekolah yang diverifikasi Disdik dalam kurun waktu seminggu,” ujar Kadisdik Tarakan, Tamrin Toha, Selasa (2/7/2024).
Setelah melakukan koordinasi dengan Rukun Tetangga (RT) yang ada di Tarakan agar anak-anak tersebut mengisi kuesioner yang telah disiapkan. Berdasarkan hasil kuesioner tersebut, kebanyakan anak ingin kembali melanjutkan sekolah namun terkendala biaya dan lain sebagainya.
“Termasuk dukungan orang tua tapi problemnya mereka terkendala biaya. Kalau dikasih pilihan dia ada pembiayaan, paling tinggi 30 persen dari 224 anak itu mau kembali masuk ke sekolah,” terangnya.
Data tersebut dijadikan acuan oleh pihak Disdik untuk bekerja sama dengan lintas sektor seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Sosial (Dinsos), (DPPA) Dinas Perempuan dan Perlindungan Anak, kemudian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mencari solusi penanganan anak putus sekolah.
Dalam menangani hal tersebut, ia berharap partisipasi masyarakat memberikan informasi kepada Disdik Kota Tarakan untuk keberadaan anak putus sekolah. Faktanya di lapangan ditemui ada orang tua yang tidak mau memberikan informasi tentang anaknya yang putus sekolah.
Selain itu, dikatakan Tamrin, ini menjadi pekerjaan bersama untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membuka cara berpikir bahwa sekolah itu penting.
“Kita mau mengajak anak-anak mari sekolah. Karena kalau angka putus sekolah tinggi, berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tarakan. Dampak ekonominya, dampak sosialnya, terutama anak putus sekolah tentu akan sulit dapat pekerjaan. Kalaupun dia bekerja mungkin di tingkat terendah, atau musiman,” ujarnya.
“Sudah ada juga Bantuan Indonesia Pintar (BIP) dari kementerian. Kalau anak masuk data terpadu kemiskinan ekstrem bisa dapat bantuan tadi. Diharapkan juga ada model lain. Kita mengajak masyarakat, selama ini ada bencana gotong-royong berikan bantuan, bisa juga kita harapkan penanganan ana sekolah ada partisipasi masyarakat,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







