Cuaca Panas dan Berkabut di Kaltara, BMKG: Kelembapan Relatif Rendah

benuanta.co.id, TARAKAN – Cuaca panas di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) turut disertai kabut yang mempengaruhi jarak pandang. Khususnya di Kota Tarakan yang sejak pagi diselimuti kabut berwarna abu-abu, Senin, 1 Oktober 2023.

Forecaster on Duty Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Raa’ina Farah Nur Annisa mengatakan prediksi cuaca pada hari ini memang cerah berawan. Berdasarkan pengamatan pada citra satelit yang ada di Bandar Udara Internasional Juwata Tarakan jarak pandang berada di bawah 5 kilometer.

“Kelembapannya juga relatif lebih rendah, sekitar 60 sampai 70 persen,” katanya, Senin (2/10/2023).

Raa’ina menyebut untuk asal muasal kabut ini sendiri belum dapat disimpulkan oleh BMKG. Pihaknya melihat kembali hasil citra satelit sejak 1 Oktober 2023 pagi hingga hari ini, di wilayah Kaltara belum terpantau adanya titik panas atau hot spot. Namun, jika melihat wilayah Kalimantan lain seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan cukup banyak terdeteksi hot spot.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, BPOM Tarakan Siapkan Pengawasan Parsel

“Jadi kalau dilihat dari citra satelit, hot spot banyak terdeteksi di wilayah Kalimantan lain. Kemudian kalau melihat dari arah angin itu dari arah Selatan menuju ke arah Utara. Artinya angin dari selatan sampai ke arah utara,” beber Raa’ina.

Dilanjutkannya, untuk jarak pandang sendiri masih ada pada ambang batas normal pun untuk aktivitas landing dan take off pesawat. Pihaknya pun juga mendapatkan laporan adanya asap ini dari wilayah Tarakan dan Nunukan. Sementara untuk Tanjung Selor dan wilayah Krayan hanya melaporkan jarak pandang yang kabur.

Baca Juga :  Disperinaker Tarakan Imbau Perusahaan Cairkan THR Paling Lambat H-7 Lebaran

“Masih kita pastikan kembali pandangan kaburnya itu dikarenakan apa. Kalau Tarakan dan Nunukan karena asap,” lanjutnya.

Durasi kabut yang menyelimuti Tarakan dan Nunukan belum dapat dipastikan hingga kapan. Lantaran pihaknya belum mengetahui pasti sumbernya. Namun, diduga kuat kabut ini berasal dari arah angin Selatan Kalimantan Utara. Kecepatan angin dari wilayah Selatan menuju Utara berada pada 10 hingga 15 knots.

Menurutnya, asap yang ada tidak juga terjadi karena udara panas yang ada saat ini. Misalnya saja pada fenomena kebakaran hutan dan lahan, awal mula nya diakibatkan oleh suhu panas berlebih.

Baca Juga :  Warnai Ramadan dengan Kebaikan, PT PRI Buka Puasa Bersama Puluhan Jurnalis

“Kalau udara panas itu faktor pendukung nya saja. Kecepatan angin sendiri ini rata-rata, bukan permukaan. Masih relatif normal saja,” imbuhnya.

Raa’ina juga menambahkan cuaca panas yang terjadi beberapa waktu terakhir lantaran matahari berada di sekitar equator atau khatulistiwa. Sehingga penerimaan sinar matahari lebih banyak dibanding hari biasanya. Pada siang hari ini pertumbuhan awan juga tak terlihat sehingga suhu udara lebih panas dari biasanya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *