Pemakaman Tertimbun Pasir di Juata Laut Akibat Erosi

benuanta.co.id, TARAKAN – Masyarakat mengharapkan adanya upaya pemerintah daerah segera melakukan penanganan tumpukan pasir di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kristen Bukit Mandiri, Kecamatan Tarakan Utara.

Benuanta.co.id melakukan penelusuran di Jalan Bukit Mandiri, Kelurahan Juata Laut tepatnya di Pemakaman Kristen. Sejumlah kuburan dipenuhi tumpukan pasir yang bercampur dengan aliran air.

Sebagian kuburan masih terlihat, sisanya tidak tampak akibat tumpukan pasir. Dahulunya, pemakaman tersebut terdapat parit air, namun saat ini tempat untuk mengalirkan air sudah tertutup erosi.

Untuk menghindari masuknya pasir lagi ke kuburan yang ada, keluarga pemilik makam melakukan penutupan tembok penahan pasir. Namun hal tersebut tak berhasil menahan tumpahan pasir yang bersumber dari atas bukit di sekitar makam.

Reporter kembali melakukan penelusuran ke arah TPU Islam yang berada di atas pemakaman Kristen. Tampak tanah lapang bagian pinggir jurang telah diisi oleh sejumlah kuburan.

Berdasarkan pantauan di jurang TPU Islam, terdapat sebuah jurang yang longsor dan membentuk sebuah aliran air. Diduga jika terjadi hujan, pasir yang ada di atas gunung turun ke arah bawah hingga menggenangi pemakaman yang berada di bawah bukit.

Baca Juga :  Lima Hari Terhenti, Sejumlah Sekolah di Tarakan Tunggu Kepastian Lanjutan MBG Ramadan

Seorang warga Joni Rumpang menjelaskan, terkait masalah pemakaman kristiani, hal tersebut disebabkan kegiatan lanjutan pengerjaan makam covid19 yang menyebabkan terjadinya erosi sehingga sejumlah makam terendam oleh pasir.

Atas kejadian tersebut Joni berharap agar pemerintah daerah dapat mencarikan solusi terbaik terkait kejadian tersebut.

Joni mengatakan, kejadian tersebut sudah terjadi selama berbulan-bulan, dimana intensitas hujan yang tinggi sehingga menyebabkan debit air yang berasal dari atas gunung turun ke area pekuburan yang letaknya berada di bawah.

“Setiap ada hujan secara otomatis pasir yang ada di atas gunung muntah ke bawah,” ucapnya.

Jika diakumulasi, jumlah kuburan yang sudah tertimbun tidak dapat terhitung banyaknya. Selain itu, terdapat banyak makam yang tidak berjejak, artinya sudah sulit terlacak akibat timbunan tanah.

Baca Juga :  9 Dapur SPPG di Tarakan Belum Beroperasi

“Kondisi sekarang kuburan sudah layaknya seperti lapangan sepak bola, untuk kuburan yang rendah sudah sama sekali tidak kelihatan,” ungkapnya.

Joni menuturkan, ada banyak orang toraja yang duduk di DPRD dan sudah pernah melakukan peninjauan.

Bagi masyarakat Toraja di Tarakan, jika ada keluarganya meninggal dunia maka kalangan tersebut wajib melakukan musyawarah terlebih dahulu. Bagi pemerintah yang mewakili masyarakat Toraja sangat paham terkait kondisi saat ini.

“Saya heran, sejauh ini belum ada tindakan maupun realisasi terkait kasus ini,” kesalnya.

Joni mengungkapkan, terkait perencanaan teknis dari pemerintah. Ia merasa hal tersebut bukanlah yang pertama kali. Artinya pemerintah sudah sering melakukan peninjauan namun belum melakukan tindakan.

“Walikota pun sudah melakukan peninjuan, hal ini bersifat darurat dan perlu diambil tindakan,” ujarnya.

Terpisah, Ketua RT 18 Kelurahan Juata Laut, Pujiono menjelaskan proyek tersebut merupakan pekerjaan milik Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Tarakan.

Baca Juga :  Ust Hanan Attaki: Empat ‘Puasa’ Mental Kunci Hati Tenang di Zaman yang Bising

Pada awal pengerjaan Pujiono telah mengingatkan agar penimbunan tidak miring ke lokasi pemukiman warga, seharusnya miring ke jurang. Namun dalam pengerjaannya tidak seperti yang disarankan.

Ia menerangkan jika runtuhan tanah tersebut berasal dari perluasan makam dan bukanlah galian pasir.

“Jadi saat hujan deras aliran air membawa material hingga ke pemakaman yang berada di bawah,” ucap Pujiono saat berada di rumahnya.

Pujiono sudah bersurat ke Kelurahan Juata Laut dan diteruskan ke Camat Tarakan Utara dan pihak DPUTR akhirnya melakukan peninjauan.

“Katanya dalam beberapa hari ke depan akan menurunkan alat, tapi belum ada beritanya sampai sekarang,” ungkapnya.

Pujiono berharap agar kondisi tersebut agar cepat diselesaikan. Sementara itu, Camat Tarakan Utara Badarudin Ishak menjelaskan, jika DPUTR yang menangani masalah TPU Kristen.

“Untuk TPU arahkan ke DPUTR Tarakan karena merupakan wewenang mereka,” tutupnya.(*)

Reporter: Okta Balang

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *