benuanta.co.id, TARAKAN – Penumpukan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD H. Jusuf SK Tarakan kini sudah jauh lebih teratasi. Plt Direktur RSUD H. Jusuf SK, dr. Budy Azis mengatakan pasien tidak lagi menunggu lama untuk mendapatkan ruang rawat inap.
“Kalau dulu pasien masih menunggu sampai dua hari, sekarang tidak sampai satu hari pun. Karena kami sudah ada petugas yang memang mengurusi langsung pasien-pasien yang masih menunggu di IGD,” ucapnya, Kamis (11/9/2025).
Ia menjelaskan, keterbatasan ruangan masih menjadi kendala utama. Sebagai rumah sakit kelas B, seharusnya hanya memiliki 200 tempat tidur, namun saat ini sudah tersedia 381 bed untuk menampung pasien dari seluruh Kalimantan Utara.
“Seharusnya untuk rumah sakit kelas kita hanya 200 bed, tapi sekarang sudah punya 381 bed untuk menutupi antrian yang ada di IGD,” jelasnya.
Beberapa faktor lain juga membuat pasien tertahan. Salah satunya adalah pasien yang sudah boleh pulang tetapi belum dijemput keluarga. Ada pula pasien dari luar daerah yang tidak bisa pulang karena transportasi terbatas.
“Misalnya mau ke Tanjung Selor atau Nunukan, sepitnya hanya sampai jam empat sore sehingga pasien tidak bisa langsung pulang,” ungkapnya.
Selain itu, koordinasi antara petugas ruang rawat inap dan IGD juga memengaruhi kecepatan layanan. Untuk itu, RSUD kini menugaskan “Manager on Duty” yang bertugas mengatasi masalah yang ada di IGD. “Alhamdulillah sejak tahun ini kita sudah tidak pernah lagi lama di IGD,” sambungnya.
RSUD juga menerapkan fleksibilitas kelas perawatan untuk mengurangi antrean. Pasien kelas I bisa sementara ditempatkan di ruang VIP atau kelas II. “Apabila pasien kelas I penuh, pilihannya bisa kita naikkan ke VIP atau turun ke kelas II untuk sementara, nanti setelah ruang kelas I kosong baru kita kembalikan. Jadi ada alternatif seperti itu yang kita lakukan,” bebernya.
Namun, jika semua ruang penuh, pasien tetap bisa ditahan sementara di IGD. Hal itu dilakukan agar hak pasien tetap terjaga, terutama jika pasien bersangkutan tidak bersedia turun kelas.
“Biasanya kalau VIP dan kelas II penuh, otomatis turun ke kelas III, tapi ini jarang terjadi. Kalau penuh semua, kami masih menahan di IGD sampai ada ruangan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







