Gagal Rebut Medali, Atletik Kaltara Akui Minim Persiapan dan Sarpras

benuanta.co.id, MIMIKA – Pupus sudah harapan atletik Kaltara dalam memperebutkan medali di PON XX Papua. Pasalnya, atletik Kaltara yaitu Devi Oktafriana gagal mendapatkan poin maksimal dalam 7 nomor pertandingan sapta lomba putri di Mimika Sport Complex, Selasa (12/10/2021).

Secara keseluruhan, Devi berada di peringkat tujuh dari 7 peserta dan hanya mampu mengumpulkan 1556 poin dari akumulasi 7 pertandingan. Antara lain lari 800 meter, tolak peluru, lompat jauh, lari 400 meter, lari gawang 100 meter, lempar lembing, dan lompat tinggi.

Baca Juga :  FIFA: Piala Dunia tak Akan Ditunda Meski Situasi Timur Tengah Memanas

Sedangkan peraih medali emas pada PON XX kali ini direbut oleh Nida Nurul Hasanah atlet asal Banten dengan total poin 4430. Posisi kedua atau medali perak diraih Nabella Ariantika utusan Lampung dengan poin 4185. Sementara medali perunggu disabet atlet Sumatera Barat, Ramadona yang berhasil mengumpulkan poin 4046.

Dalam evaluasinya, Pelatih Atletik Kaltara, Munir Alhabsyi menyampaikan atletnya memang memiliki banyak kelemahan pada gelaran olahraga nasional terakbar ini. Mulai dari persiapan, situasi dan kondisi daerah selama pandemi yang membuat aktifitas pelatihan menjadi terbatas. Hingga tak tersedianya Sarana Prasarana (Sarpras) atletik di Bumi Benuanta.

Baca Juga :  Liverpool ke Perempat Final Piala FA setelah Taklukkan Wolves 3-1

“Persiapan kita kemarin ikut PON memang minim, hanya 3 bulan saja. Kedepan mudah-mudahan kita bisa mengantisipasi semua kekurangan seperti persiapan jangka panjang,” ujar Munir Alhabsyi kepada benuanta.co.id, Rabu (13/10/2021).

Berita Terkait : 

Baca Juga :  Atletico Madrid Gilas Tottenham 5-2

Faktor situasi dan kondisi yang turut berpengaruh besar juga dialami anak asuhnya selama bertanding di ajang multievent ini. Misalnya, saat berlatih Devi, kata dia, mampu menuntaskan lompat tinggi terbaik dengan 156 cm. Namun pada saat bertanding hanya bisa berada di angka 136 cm.

“Artinya non teknis ini bisa (karena) situasi dan kondisi di Papua sendiri, bisa juga kondisi lapangan atau non teknis lainnya,” pungkasnya. (*) 

Editor : Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *