benuanta.co.id, NUNUKAN– Badan Pusat Statistik Kabupaten Nunukan mencatat Inflasi Kabupaten Nunukan pada Februari 2026 sebesar 4,22 persen secara tahunan, dengan laju bulanan yang relatif terkendali di angka 0,25 persen.
Angka yang dirilis Badan Pusat Statistik Kabupaten Nunukan, ini menunjukkan tekanan harga masih terjaga dan berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien menyampaikan, secara umum kondisi inflasi daerah masih dalam koridor yang stabil, meskipun terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga signifikan.
“Inflasi year-on-year Februari 2026 tercatat 4,22 persen, sementara itu, inflasi month-to-month sebesar 0,25 persen dan inflasi tahun kalender atau year-to-date sebesar 1,06 persen,” sebutnya.
Ia menjelaskan, secara tahunan terdapat lima komoditas utama yang memberi andil besar terhadap pembentukan inflasi di antarannya, tarif listrik menjadi penyumbang terbesar, diikuti emas perhiasan.
Komoditas perikanan seperti ikan tongkol atau ikan ambu-ambu serta ikan cakalang juga memberikan kontribusi signifikan, disusul bahan bangunan berupa batu bata atau batu tela.
“Kenaikan pada kelompok energi dan beberapa komoditas pangan menjadi faktor dominan pembentuk inflasi tahunan di Nunukan,” jelasnya.
Sementara itu, pada sisi bulanan, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi Februari, emas perhiasan kembali tercatat mengalami kenaikan harga, bersama tomat, ikan cakalang, dan ketimun.
Meski demikian, sejumlah komoditas justru membantu menahan laju inflasi seperti bayam, kangkung, dan wortel mengalami penurunan harga. Begitu pula sabun mandi dan bawang merah yang tercatat menyumbang deflasi secara bulanan.
“Fluktuasi harga komoditas segar seperti sayuran memang cukup cepat berubah, sehingga sangat memengaruhi inflasi jangka pendek,” tambahnya.
Jika dibandingkan dengan capaian yang lebih luas, inflasi Kabupaten Nunukan masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen secara tahunan dengan inflasi bulanan 0,68 persen.
Di tingkat Provinsi Kalimantan Utara, inflasi gabungan tercatat 4,75 persen secara tahunan dan 0,47 persen secara bulanan. Sementara itu, Kota Tarakan dan Tanjung Selor masing-masing mencatat inflasi tahunan sebesar 5 persen.
Menurut Iskandar, data ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi. Khususnya pada komoditas strategis yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
“Kami akan terus memantau perkembangan harga dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar stabilitas harga tetap terjaga,” tutupnya. (*)
Reporter: Novita A.K
Editor: Endah Agustina







