benuanta.co.id, TARAKAN – Antrean kendaraan, khususnya truk, sempat terjadi di sejumlah SPBU di Kalimantan Utara dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ini terlihat di antaranya di SPBU Sengkawit di Kabupaten Bulungan serta SPBU Juwata di Kota Tarakan.
PT Pertamina menyebut penumpukan kendaraan tersebut dipengaruhi oleh pola pengisian bahan bakar yang terpusat di lokasi tertentu serta meningkatnya kebutuhan pada waktu bersamaan.
Sales Branch Manager Kaltimut V Fuel PT Pertamina, Muhammad Naufal Atiyah, mengungkapkan antrean yang sempat terjadi di Bulungan dipicu oleh banyaknya truk yang memilih mengisi bahan bakar di satu SPBU yang sama. Menurutnya, para pengemudi truk cenderung datang ke lokasi yang sudah biasa mereka gunakan untuk pengisian.
“Di Bulungan itu truk-truk mengantri di satu SPBU karena mereka sudah biasa mengisi di situ,” ungkapnya, Ahad (8/3/2026).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina berencana melakukan pengaturan jam penjualan biosolar agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di satu lokasi dalam waktu bersamaan. Pengaturan ini diharapkan dapat mendistribusikan antrean kendaraan secara lebih merata.
“Kami akan atur jam jual agar penjualan biosolar tidak bersamaan sehingga truk tidak menumpuk di satu SPBU,” jelasnya.
Selain itu, Pertamina juga akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait guna memastikan pengaturan distribusi berjalan lebih efektif. Koordinasi akan dilakukan bersama organisasi pengusaha SPBU serta pihak terkait lainnya.
“Kami akan maksimalkan koordinasi dengan Hiswana Migas dan juga pengusaha SPBU,” tegasnya.
Langkah lain yang akan dilakukan adalah pemetaan lokasi SPBU yang menjual biosolar guna melihat potensi pembukaan layanan pada waktu yang sama. Dengan begitu, antrean kendaraan dapat dipecah ke beberapa lembaga penyalur.
“Kami akan mapping lokasinya, jika memungkinkan dua sampai tiga lembaga penyalur bisa buka bersama untuk memecah antrean,” katanya.
Di Kabupaten Bulungan sendiri, Naufal menyebut terdapat empat SPBU reguler yang menjual biosolar sehingga pengaturan distribusi dinilai masih memungkinkan untuk dilakukan secara lebih merata.
Hal ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan kendaraan di satu titik pengisian. “Empat SPBU reguler di Bulungan semuanya menjual biosolar,” imbuhnya.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Kota Tarakan. Di wilayah ini, SPBU reguler tidak menjual biosolar sehingga distribusinya diarahkan ke SPBU nonreguler. Situasi tersebut sempat memicu antrean kendaraan ketika kebutuhan meningkat pada waktu tertentu.
“Kalau di Tarakan, SPBU reguler tidak menjual biosolar sehingga penjualannya diarahkan ke nonreguler,” ujarnya.
Ia menambahkan, antrean yang sempat terjadi di Tarakan juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan pada periode tertentu. Saat alokasi harian habis, sebagian kendaraan sudah menunggu sejak pagi hari untuk mengisi bahan bakar setelah pasokan tiba.
“Beberapa truk sudah menunggu dari pagi karena jam bongkar BBM di SPBU dilakukan pagi hari,” tuturnya.
Namun demikian, Pertamina juga menghadapi kendala di lapangan terkait keterbatasan area di beberapa SPBU yang tidak memungkinkan kendaraan untuk menginap atau menunggu terlalu lama. Oleh karena itu, pengaturan distribusi akan terus dikoordinasikan dengan pihak SPBU setempat.
“Beberapa area SPBU memang tidak bisa digunakan untuk kendaraan menginap,” katanya.
Terkait rata-rata konsumsi biosolar oleh masyarakat, Naufal menyebut pihaknya tidak dapat menyampaikan data rinci kepada publik. Hal tersebut karena keterbatasan kewenangan dalam menyampaikan informasi detail terkait pemakaian.
“Kami tidak memiliki kapabilitas untuk menyebutkan data pemakaian biosolar secara rinci,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







