Gempa terjadi pada pukul 22.33 waktu setempat atau 14.33 GMT (21.33 WIB) di kedalaman 10 kilometer, sekitar 183 kilometer dari Kota Nagqu di bagian utara wilayah otonomi bernama resminya Xizang itu.
USGS mengeluarkan peringatan kuning untuk potensi korban jiwa, yang berarti sejumlah orang mungkin tewas. Lembaga itu juga mengeluarkan peringatan oranye untuk potensi kerugian ekonomi.
Peringatan oranye menandakan kemungkinan kerusakan signifikan dengan dampak yang dapat meluas. USGS memperkirakan kerugian ekonomi kurang dari satu persen produk domestik bruto (PDB) China.
“Peristiwa gempa sebelumnya dengan tingkat peringatan ini memerlukan respons di tingkat regional atau nasional,” kata USGS dalam keterangannya.
Belum ada laporan segera tentang korban jiwa maupun kerusakan akibat gempa tersebut. Namun, USGS menyebut penduduk di wilayah itu umumnya tinggal di bangunan yang rentan terhadap guncangan gempa.
Otoritas China mengaktifkan respons darurat Level II, menurut kantor berita nasional Xinhua.
Respons itu diterapkan jika gempa awal dinilai sebagai bencana serius atau gempa berkekuatan magnitudo 6,5 hingga kurang dari 7,0 di wilayah penting.
Wilayah Tibet sebelumnya dilanda banjir bandang besar yang dipicu longsoran es dan batu di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pada Agustus.
Hampir 1.500 orang tewas di kedua sisi perbatasan. Sementara, ribuan lainnya masih dinyatakan hilang. Di wilayah China, korban meninggal mencapai 43 orang dan 519 lainnya hilang.
Dari warga yang hilang di Tibet, sebanyak 261 orang diantaranya merupakan warga negara asing, ungkap laporan tersebut.
Sumber: Anadolu/Antara








