IRGC: Satu Kapal Tanker Kena Ranjau dan Terbakar di Selat Hormuz

Istanbul – Sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menghantam ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz, menurut Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Minggu malam (18/10), waktu setempat.

Ledakan tersebut menghantam ruang mesin kapal saat berupaya meninggalkan jalur perairan strategis tersebut, demikian dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, dengan mengutip pernyataan Angkatan Laut IRGC.

Menurut pernyataan tersebut, kapal tanker itu telah mematikan seluruh sistem pemosisian dan navigasinya sejak awal pelayaran. Kapal tersebut juga berupaya menggunakan jalur selatan yang dianggap Iran sebagai rute tidak resmi.

Baca Juga :  Koalisi Arab: Serangan Houthi ke Bandara Saudi Sebabkan 19 Orang Tewas

Angkatan Laut IRGC menuding kapal itu melanggar peraturan maritim yang mengatur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Pasukan IRGC memperingatkan kapal-kapal yang beroperasi di Selat Hormuz dan kawasan Teluk dengan sistem navigasi dan menonaktifkan identifikasi akan menghadapi tindakan tegas.

Pernyataan itu tidak menyebutkan identitas kapal tanker maupun memberikan informasi mengenai kemungkinan korban jiwa maupun tingkat kerusakan yang terjadi.

Baca Juga :  Guterres Apresiasi Peran RI di Misi Perdamaian PBB

Pengumuman tersebut menyusul serangkaian insiden serupa di jalur perairan strategis itu.

Sebelumnya, Sabtu (17/10), Angkatan Laut IRGC menyatakan sebuah kapal supertanker kedua, yang membawa lebih dari 2 juta barel minyak mentah, menghantam ranjau laut dan terbakar saat berupaya melintasi Selat Hormuz lewat jalur yang tidak diizinkan.

Sehari sebelumnya, pasukan Iran tersebut melaporkan kapal tanker lain juga menghantam ranjau, sehingga memicu ledakan dan kebakaran.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran sejak 28 Februari.

Baca Juga :  Gelombang Protes di Prancis, WNI diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Iran merespons dengan melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai wilayah di kawasan tersebut, serta secara efektif menutup Selat Hormuz. AS kemudian memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

AS dan Iran selanjutnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni mengenai kebebasan navigasi di selat tersebut. Namun, pelaksanaannya terhenti akibat perbedaan pendapat terkait keamanan di jalur perairan strategis itu.

Sumber: Anadolu / Antara