2 Sampel Takjil di Berau Diduga Mengandung Zat Berbahaya, akan Diteliti di Laboratorium Samarinda 

benuanta.co.id, BERAU – Dua dari enam belas sampel takjil dan menu berbuka puasa di Masjid Agung Baitul Hikmah diduga menggunakan zat berbahaya. Hal itu diungkapkan oleh Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Balai BPOM Samarinda Abdul Haris Rauf saat didampingi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Berau.

“Yang diuji di sini ada 16 sampel, 14 negatif. Kemudian ada 2 yang diduga menggunakan formalin, boraks, methanyl, rhodamin,” ucapnya, Selasa (26/3/2024).

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1983 votes

Kata dia, sampel yang diduga menggunakan zat berbahaya bakal uji sampel lebih teliti di Laboratorium Samarinda

Baca Juga :  Remisi Lebaran, Rutan Berau Bentuk Tim Penguatan

“Kami akan bawa ke Samarinda dua sampel diduga menggunakan zat berbahaya antara negatif dan positif terlalu tipis untuk ditetapkan,” ungkapnya.

Senyawa tersebut berasal pewarna yang digunakan oleh saos dan sirup berwarna merah, yang diambil dari beberapa sample. “Paling lambat minggu depan hasilnya sudah keluar,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie menambahkan, jika pengawasan dan pengujian pangan kali ini sudah dilakukan rutin setiap tahun.

Baca Juga :  Wisatawan di Pulau Derawan Keluhkan Listrik Sering Padam

“Namun karena momen bulan puasa Ramadan, maka BBPOM Samarinda langsung turun melakukan uji sendiri,” bebernya.

Kegiatan uji sampel tahun ini hingga menyasar ke Minimarket untuk mengetahui produk yang kadaluwarsa.

“Kegiatan ini untuk mengetahui masa kadaluwarsanya. Hanya saja karena momennya setahun sekali maka kita datangkan BBPOM Samarinda,” jelasnya.

Selain itu, Lamlay menjelaskan karena Dinkes Berau sebagai fungsi pembinaan, maka pedagang yang terbukti menggunakan zat berbahaya. Maka pihaknya bakal panggil para pedagang menu berbuka puasa tersebut pembinaan terlebih dahulu.

Baca Juga :  Sekda Minta Disdik Berau Perhatikan Perpustakaan Supaya Naik Akreditasi

“Termasuk memberikan edukasi penggunaan zat berbahaya dalam pangan, yang bisa mengganggu Kesehatan dan menimbulkan penyakit,” pungkasnya.(*)

Reporter: Georgie

Editor: Ramli 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *