Krisis Air Bersih, Laura Sampaikan Sejumlah Solusi dari Pemda

benuanta.co.id, NUNUKAN – Tanggapi persoalan krisis air bersih, Bupati Nunukan Asmin Laura Hafid melakukan pertemuan dengan Perumda Tirta Taka Nunukan, BPDB Nunukan, BMKG Nunukan pada Kamis, 29 Februari 2022.

Laura mengatakan, kedatangannya di kantor Perumda Tirta Taka Nunukan untuk menanggapi keluhan masyarakat atas pelayanan air bersih yang tidak berjalan normal beberapa bulan terakhir ini di Nunukan.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1895 votes

“Sebenarnya kalau saya pribadi saya sangat memahami situasi ini, tapi di sini saya tidak ingin muncul persepsi masyarakat seolah-olah pemerintah membiarkan kondisi ini,” kata Asmin Laura Hafid kepada awak media, Kamis (29/2/2024).

Kekurangan air baku yang kini terjadi disebabkan oleh faktor alam yakni minimnya air, padahal sejumlah embung yang di Nunukan selama ini mengandalkan air baku dari tadahan air hujan.

Sejatinya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan telah mengambil sejumlah langkah-langkah antisipasi terkait kekurangan air bersih ini.

Dijelaskannya, untuk solusi jangka pendek, Pemkab telah mengerahkan Perumda Tirta Taka bersama dengan BPBD Nunukan, PMI, KPH, Polres Nunukan untuk membantu membagikan air bersih ke masyarakat ke rumah-rumah warga yang terdampak.

Baca Juga :  BPBD Nunukan Siagakan Personel Antispasi Bencana Selama Libur Lebaran

Kemudian pada tahun anggaran 2023 lalu setidaknya ada 14 titik sumur bor telah dibangun yang tersebar di beberapa kelurahan. Kemudian untuk tahun anggaran 2024 ini akan dibangun lagi 25 titik sumur bor.

“Yang 14 ini sudah selesai, tapi untuk yang 25 titik khusus di Pulau Nunukan tapi ini semuanya masih proses. Kita sebagai Pemerintah tentu sangat memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, lanjut Laura, untuk solusi jangka menengah akan dilakukan pengerukan pada Embung Bolong. Namun, untuk eksekusinya akan dilakukan pada anggaran tahun 2025 oleh Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Kalau untuk jangka panjangnya, itu kita harus memperbanyak Embung. Jadi nantinya ketika air hujan turun maka sejumlah titik Embung yang ada bisa lebih banyak menampung air baku,” ungkapnya.

Akan tetapi, Laura mengatakan jika untuk pembuatan Embung tidak lah mudah, sebab membutuhkan biaya yang besar dan proses waktu yang lama.

Baca Juga :  Disdik Nunukan Imbau Pelajar Isi Libur Lebaran dengan Kegiatan Positif

“Untuk tahun ini kita sudah mulai pembebasan lahan untuk Embung Sei Limau. Ini baru tahap satunya, mungkin tahun depan baru tahap penampungannya. Karena ini membutuhkan lahan sekitar 34 hektare. Jadi mungkin yang baru bisa kita lakukan pembebasan saat ini baru beberapa hektare saja,” jelasnya.

Diutarakannya, Pemkab dalam hal ini hanya menganggarkan untuk pembebasan lahan saja, sedangkan untuk proses pembangunannya akan di anggarkan dan dilakukan oleh BWS.

“Ini adalah beberapa solusi-solusi yang kita lakukan, jadi kita ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa Pemerintah itu tidak diam saja dengan persoalan air ini,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Perumda Air Minum Tirta Taka, Masdi menerangkan, saat ini pihaknya masih melakukan pelayanan air bersih secara bergilir.

“Kita masih melakukan pelayanan air bersih secara bergilir, begitupun dengan pembagian air dari rumah ke rumah itu sudah kita jalankan beberapa hari terakhir ini,” kata Masdi.

Masdi berharap, masyarakat bisa memahami kondisi ini sehingga lebih bijak lagi menggunakan air bersih.

“Kita juga mengajak kepada seluruh masyarakat Nunukan untuk sama-sama berdoa, semoga hujan bisa segera turun,” ungkapnya.

Baca Juga :  925 WBP Lapas Nunukan Diajukan Terima Remisi Hari Raya Idulfitri

Kepala BMKG Nunukan William Sinaga mengatakan, untuk Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik tiap tahunnya mengalami musim kekeringan atau curah hujan minim di awal tahun.

“Sama seperti tahun lalu, di bulan Februari itu musim kemarau, kemudian kita mengalami musim Kemarau lagi mulai dari November 2023 hingga Februari saat ini, salah satu faktornya ialah dampak El Nino,” ungkap William.

William menyampaikan, menjelaskan untuk perhitungan dasarian dihitung 10 hari setiap bulan. Yang mana, selama sebulan ada 3 dasarian. Di Februari hingga dasarian 2 pada 20 Februari 2024 curah hujan di bawah 50 milimeter.

“Jadi artinya, untuk Pulau Sebatik dan Nunukan saat ini memasuki musim kekeringan. Berdasarkan perkiraan cuaca, musim kekeringan ini akan berlangsung hingga Maret mendatang,” katanya.

William menerangkan, berdasarkan hasil pengamatan, sejak Januari 2024 berdasarkan takaran hujan di Nunukan jumlah curah hujan 129,3 mm. Sehingga, kondisi ini masuk kategori kemarau.

“Sedangkan untuk intensitas curah hujan diprediksi akan naik di bulan April mendatang,” pungkasnya.(*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Ramli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *