Kalimantan Utara Dalam Rupiah

Tarakan – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara (KPwBI Prov Kaltara) menyelenggarakan kick off Cinta Bangga Paham Rupiah (CBP) 2024 pada Kamis, 22 Februari 2024. Kick off ini akan mengawali gerakan edukasi CBP Tahun 2024 di Kaltara. Layout acara tertata apik menceritakan perjalanan Rupiah yang penuh dengan nilai perjuangan bangsa, keragaman budaya dan kekayaan Indonesia. Acara kemudian dibuka dengan Tari Gong Suku Dayak

Baju Adat Tidung pada UPK 75
Seorang anak laki-laki mengenakan baju adat suku Tidung menyapa para tamu undangan. Muhammad Izzam namanya, saat berusia 8 tahun dirinya tampil menjadi salah satu model dari 9 anak yang muncul pada Uang Peringatan Kemerdekaan (UPK) ke 75 tahun pecahan Rp75.000,00. Uniknya baju Tidung yang dikenakan Izzam sempat menjadi sorotan lantaran disangka sebagai baju asal Cina.

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
1901 votes

Dilansir dari portal Pemerintah Kabupaten Tana Tidung, Suku Tidung merupakan salah satu suku yang tanah asalnya berada dibagian Utara Pulau Kalimantan yang mayoritas masyarakatnya beragama islam dan hidup dengan budaya pesisir. Semula suku Tidung memiliki kerajaan yang disebut Kerjaan Tidung, akan tetapi Kerajaan Tidung punah karena adanya politik adudomba oleh pihak Belanda.

Baca Juga :  Inflasi Nunukan Tertinggi di Kaltara

Pada perkembangannya, Suku Tidung Ulun Pagun juga memiliki identitas lain yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakatnya, salah satunya adalah pakaian adat.

Pakaian adat Ulun Pagun terdiri dari Pelimbangan dan Kurung Bantut (pakaian sehari-hari), Selampoy (pakaian adat), Talulandom (pakaian resmi), dan Sina Beranti (Pakaian Pengantin).

Pakaian yang muncul di UPK 75 itu adalah Sina Beranti atau pakaian pengantin mempelai pria. Warna kuning dan merah mendominasi pada baju adat ini. Dilengkapi dengan aseksoris berupa hiasan kepala serta ikat lengan yang juga berwarna keemasan.

Makna dari warna

Tari Gong Suku Dayak

Pada bagian belakang Rupiah nominal Rp20.000 emisi tahun 2022, bergambar Tari Gong berasal dari suku Dayak di Kalimantan, pemandangan alam Derawan dan Bunga Anggrek Hitam​.

Baca Juga :  Telkomsel Resmi Luncurkan Layanan eSIM, Pelanggan Bebas Pilih Nomor Sendiri dengan Ragam Paket Bernilai Tambah

Tari gong yang juga menjadi tarian pembuka pada acara kick off CBP ini disebut juga Tari Kancet Ledo. Dikutip dari buku Ensiklopedia seni & budaya Nusantara (2009) karya Gendhis Paradisa, tari Gong menggambarkan kelembutan seorang gadis yang meliuk-liuk bagaikan sebatang padi. Tarian tradisional tersebut ditarikan oleh seorang gadis dengan memakai pakaian adat Dayak Kenyah. Di mana gerakan tubuh dan tangan yang lambat dan lembut, serta dominasi bulu burung dalam corak pakaiannya merupakan ciri khas yang bisa dilihat pada tarian tersebut. Biasanya tari Gong dipertunjukkan untuk upcara penyambutan tamu agung atau upacara menyambut kelahiran seorang bayi kepala suku.

Indah, gadis berusia 20 tahun yang merupakan turunan Dayak Kenyah berhasil menampilkan tari Gong dengan gemulai. Mengenakan baju adat Dayak yang dominan hitam dan berhiaskan manik, serta aseksoris bulu burung Enggang di ujung tangan dan hiasan dikepalanya. Kutipan alasan Indah belajar tarian tradisional

Baca Juga :  Inflasi Nunukan Tertinggi di Kaltara

Bunga Anggrek Hitam

Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) adalah sejenis anggrek yang memiliki nama ilmiah Coelogyne pandurata. Anggrek ini dikenal dengan sebutan “anggrek hitam” karena warna bunganya yang kebanyakan berwarna hitam atau keunguan. Anggrek hitam berasal dari Asia Tenggara, terutama Indonesia (Kalimantan dan Papua), Malaysia, dan Thailand. Meskipun disebut “anggrek hitam,” warna sebenarnya bisa bervariasi, mulai dari ungu tua, cokelat tua, hingga hijau kehitaman.

Di Kalimantan Utara sendiri, Anggrek Hitam sempat dibudidayakan oleh Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kota Tarakan di kawasan kebun raya anggrek yang juga sempat menjadi primadona dan ekowisata Tarakan. Sempat mengalami masa sulit, kini kebun raya anggrek tersebut mulai kembali mendapat perhatian. Pada tahun 2021, salah satu program CSR BUMN di Tarakan memulai upaya untuk melestarikan anggrek hitam yang langka dan dilindungi itu.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *