Kolaborasi Tindak Persoaalan Narkotika

benuanta.co.id, TARAKAN – Nilai penindakan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor (NPP) di Bea Cukai Tarakan selama 2023 tercatat tinggi. Selain NPP terdapat pula barang ilegal yang sempat ditindak dengan total 51 kasus. Untuk kedua kategori tersebut, Bea Cukai Tarakan mengakumulasikan nilai barang setara dengan Rp 143.883.373.634 miliar.

Kategori barang ilegal yang mampu diungkap seperti pakaian bekas 4 kasus dengan total 32 bal dan produk pangan berupa daging ilegal dengan berat 6.460 kilogram atau setara Rp 244.296.405.

Kepala Bea Cukai Tarakan, Johan Pandores mengatakan akan upaya dan kewaspadaan yang dilakukan pada 2024 ini tetap sama bahkan lebih diperketat lagi. Meski beberapa barang ilegal sudah tak lagi marak seperti ballpress dan daging ilegal, namun kewaspadaan tetap dilakukan.

“Misalnya seperti kosmetik (ilegal) menjadi fokus kita juga, NPP, produk makanan juga makanya pola strategi kita harus dipertegas lagi,” katanya, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga :  TPA Aki Babu Jadi Taman Kota, Pemkot Tarakan Kucurkan Rp 20 Miliar untuk TPAS Baru

Ia melanjutkan, pola strategi yang akan diperkuat ialah sinergitas dan kolaboratif dengan stakeholder terkait serta pembaruan alat-alat penunjang operasi pengawasan. Peningkatan sinergi sendiri tak hanya dilakukan di lingkup hukum Tarakan melainkan wilayah Kaltara. Sinergitas sendiri tak hanya untuk kekuatan personel juga informasi intelijen.

“Informasi keterangan apapun kita sharing dan olah bersama. Nanti akan ditentukan targetnya kemana, kira-kira akan seperti apa. Itu lebih optimal daripada kita gerak sendiri,” lanjutnya.

Sementara untuk kapal operasi milik Bea Cukai Tarakan saat ini perlu penyegaran mengingat terdapat kerusakan pada pengejaran saat operasi berlangsung. Disinggung menyoal jumlah armada yang dikerahkan pada setiap operasi pengawasan, pihaknya tak menjelaskan lebih detail.

“Sempat jebol mesin kita. Kemarin kita sudah komunikasi khusus dengan kantor pusat Jakarta untuk pembaruan mesin kapal kita. Karena kapal kita untuk mengejar kapal pelaku itu agak berat, kita akan tingkatkan kapasitasnya,” jelasnya.

Baca Juga :  MA Tolak Kasasi Jaksa atas Perkara Sabu 2,7 Kilogram

Selama melakukan operasi barang terlarang pihaknya menilai Kota Tarakan yang menjadi tempat persinggahan sekaligus pemasaran. Seperti NPP yang sebagian besar selalu menjadikan Tarakan sebagai tempat transit sebelum dikirim ke wilayah Indonesia lainnya. Berdasarkan hasil mapping, konsumen dari NPP sebagian besar berada di Sulawesi.

“Tapi ada juga narkotika yang diecer di sini (Tarakan). Daging ilegal juga begitu,” tuturnya.

Sebagian besar, barang ilegal diduga berasal dari negara tetangga melalui Sebatik, Nunukan. Sehingga terdapat kendala tersendiri bagi pihaknya yang berkantor pusat di Tarakan. Ditegaskan Johan hal itulah yang mendasari kuat harus dilakukan sinergitas dengan stakeholder lintas pulau.

Terlebih, pihaknya mempelajari skema penyelundupan yang dilakukan oleh pelaku bervariasi, mulai dari di tengah laut, sungai besar dan pelabuhan. Modusnya pun masih sama, seperti pelaku yang mencoba menghilangkan barang bukti dengan membuang ke laut

“Kaltara ini banyak sungai jadi sulit kapal kita masuk ke sungai. Kita tidak juga menjanjikan semua akan diberantas tapi upaya kita semaksimal mungkin untuk menekan angka kejahatan itu.,” pungkas Johan.

Baca Juga :  DPRD Tarakan Enggan Beberkan Nama Pj Wali Kota Tarakan

Sementara itu, Dirpolairud Polda Kaltara, Kombes Pol Bambang Wiriawan mengatakan hal serupa. Pada 2024 ini, pihaknya merencanakan patroli gabungan bersama Bea Cukai dan TNI AL.

“Strategi Polairud adalah menempatkan kapal-kapal patroli yang rawan terjadinya tindak pidana di perairan,” katanya.

Pihaknya juga menempatkan satu unit kapal untuk siaga SAR dan dua unit kapal untuk Operasi Mantap Brata guna pengamanan Pemilu 2024. Pada tahun 2024 ini juga terdapat penambahan armada sebanyak dua unit.

“Dua unit kapal swap boat yang nantinya khusus digunakan di sungai dan rawa. Kita juga akan gelar latihan kesiapsiagaan,” singkat perwira melati tiga itu. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Nicky Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *